Chapter 6

32.4K 2.6K 5
                                        

✯Happy Reading✯

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✯Happy Reading✯


"Ayah mencari saya?" 

Lycene yang baru masuk ke dalam ruang kerja ayahnya bertanya. Gadis itu memberikan salam dengan sopan seperti etika yang diajarkan.

"Iya, duduklah dulu."

Lycene menurut, mendudukkan dirinya di sofa. Daver mengikutinya, duduk di seberang sofa gadis itu. 

Pria itu menyalakan cerutunya, menghisap tembakau itu sebelum buka suara, "Besok aku akan pergi ke ibu kota, ada undangan dari kekaisaran yang harus kudatangi."

"Jadi aku titipkan kunci ini padamu. Kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?" sambung Daver meletakkan kunci kuno berwarna perak di atas meja.

Lycene shock saat mengetahui kunci apa yang ayahnya berikan, "A–ayah yakin? Maksud saya Ayah benar-benar tidak apa menyerahkan kunci sepenting ini pada saya?"

"Ya, aku percayakan padamu." Daver menghembuskan nafasnya, asap putih keluar dari hidung dan mulutnya.

"Berapa lama Ayah akan pergi?"

"Mungkin paling lama lima hari."

Lycene mengambil kunci yang diamanatkan ayahnya di atas meja, "Jika boleh tahu kenapa Ayah memilih mempercayakan tugas sepenting ini pada saya padahal ada Kak Zie dan Zic yang lebih tua dari saya?"

Daver mengusap dagunya, "Meskipun kau adik yang paling muda tapi dari kedua saudaramu itu kau yang paling bisa diandalkan, Lycene. Kau lebih bertanggung jawab dan lebih dari mereka."

Baiklah, itu alasan yang cukup masuk akal. Lycene mengangguk dua kali, gadis itu pun lantas menerima tugas yang diberikan ayahnya.

***

"Arghh … aku tidak bisa melakukannya." Zic menjambak rambutnya frustasi. Lelaki itu tengah berlatih dansa. Dalam beberapa hari ke depan akan ada ujian praktek untuk dansa.

Tapi berkali-kali ia salah melangkah dan lupa dengan urutan gerakannya.

"Kenapa dansa bisa sesusah ini?" gumam lelaki itu putus asa. 

Lycene menutup bukunya, telinganya terasa kebas mendengar gerutuan Zic sejak tadi. Meletakkan bukunya di atas rerumputan. Gadis itu lantas bangkit dari duduknya, menghampiri saudaranya yang berjongkok frustasi dengan tangan yang masih menjambak rambutnya.

"Berdirilah!" titah Lycene menarik tangan Zic untuk berdiri.

Lycene berniat membantu lelaki itu berlatih, ia tidak akan bisa fokus membaca buku jika Zic terus mendumel seperti ini.

"Anggap aku pasangan dansamu," ujar Lycene seraya menarik tangan Zic untuk memegangi pinggangnya.

Lelaki itu sedikit tersentak dengan perlakuan gadis itu. Tapi meskipun begitu, ia tetap merengkuh pinggang sosok di depannya. Mengatupkan tangan lainnya yang bebas untuk menggenggam tangan Lycene.

The Real VillainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang