Dibuat: Minggu, 19 Febuari 2023. 17:30.
Halooo!
Gimana kabar kalian?
Gimana sama hari minggu ini?
Senyum dulu dong!
Jangan banyak-banyak sedih ya? Nanti dunia ikut murung. Lagipula jelek tau jadinya😝
Hehe, bercanda😁
Yaudah, ayo baca. Tapi jangan lupa vote dan komennya ya!
🦋 HAPPY READING 🦋
🌼🌼🌼
Anne sedari tadi tidak henti-hentinya bolak-balik di depan ruang operasi Pangeran. Sudah sekitar 2 jam yang lalu sejak Pangeran dilarikan ke rumah sakit. Anne benar-benar cemas dengan kondisi Pangeran. Meski seringkali ditegur oleh Rafi, Zeon, dan juga Gerry yang menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu sembari menunggu kabar dari dokter yang menangani Pangeran.
Rafi yang sudah jengah pun berdiri dari duduknya. "Lo bisa tenang nggak? Kalau lo kayak gini, kita semua jadi ikutan panik!" seloroh Rafi dengan nada suaranya yang sedikit terdengar tinggi, tidak seperti biasanya.
Gerry dan Zeon pun ikut berdiri dari duduknya dan merangkul pundak Rafi bermaksud untuk menenangkannya. Keduanya merasa terkejut karena seorang Rafi membentak. Jarang sekali, bahkan mereka tidak biasa melihat Rafi yang seperti ini. Mungkin itu juga dikarenakan Rafi yang menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa saat kejadian Pangeran tertembak.
"Lo juga jangan gini, Raf. Pangeran nggak suka kita semua sedih karena dia. Kita harus tenang. Sabar, Raf. Gue tau lo marah sama keadaan, tapi lo nggak harus ngelampiasin ke Anne. Kita semua di sini itu korban, Raf," ujar Zeon dengan menepuk punggung Rafi dua kali untuk memberikan ketenangan sekaligus pengertian.
"Anne, Pangeran bakal baik-baik aja. Dia itu kuat," ujar Gerry berusaha untuk membuat Anne tenang. Dia maju selangkah untuk lebih dekat dengan Anne dengan kedua tangannya yang memegangi bahu Anne. Ditatapnya Anne dengan dalam. "Ada yang harus gue bicarain sama lo," bisik Gerry sangat pelan yang hanya mampu di dengar oleh Anne.
*****
Gerry mengajak Anne ke sebuah taman di belakang rumah sakit. Keduanya duduk bersama dengan Gerry yang terus menerus menatap Anne yang terlihat seperti sedang gelisah dengan kedua tangannya yang saling bertautan di pangkuannya.
Gerry menghela napas panjangnya. "Kayaknya lo kelihatan khawatir banget sama kondisi Pangeran," katanya dengan pandangannya yang lurus ke depan.
Anne yang sedari tadi menatap kedua tangannya yang saling bertautan pun beralih menatap Gerry. "Ya gimana gue nggak khawatir, Ger. Pangeran kayak gini gara-gara gue. Coba kalau tadi gue nggak sok-sokan ngelawan Deru, mungkin nggak bakal kayak gini."
Gerry merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Anne. "Ne, mau tadi lo ngelawan Deru atau nggak. Semua pasti bakal sama aja. Deru itu licik, Ne. Lagipula emang dari dulu Deru nggak suka sama Pangeran."
"Ya, tapi, Ger—"
"Lo kelihatan berlebihan gini khawatirin Pangeran," sela Gerry cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
HUSBAND ABLE(?)
RomanceMenikah dengan pria tampan yang memimpin sebuah perusahaan? Itu tidak pernah terpikir sekalipun oleh wanita dengan kehidupannya yang sederhana. Anne menerima lamaran dari seorang bosnya, meski dia tahu bosnya melamar dirinya bukan karena atas dasar...
