chapter 3: paviliun Cahaya

1.5K 174 110
                                    

    Yap disinilah aku, didepan gerbang Paviliun  cahaya, satu satunya bangunan  yang sengaja dipisahkan oleh raja semata mata untuk mengurung pangeran bungsu.

   Bukannya ini terlalu kejam..? Bahkan para kakaknya tak ada niatan berkunjung loh, itu berarti akulah orang pertama yang akan memasuki Paviliun cahaya. Ini sangat mendebarkan.

   Di dalam novel diceritakan Pavilium ini sangat disayangkan tidak terawat,  karna kepala pelayan yang melakukan penggelapan dana  dan penganiayaan terhadap pangeran termuda, walau tau akan hall itu kerajaan seolah menutup mata akan tidakan itu dan membiarkannya begitu saja,kurangnya bukti dan bungkamnya para pelayan membuat kepala pelayan dengan lihainya bisa menghindari hukuman, dan sangat disayangkan saat usia Solar memasuki sepuluh tahun si kepala pelayan akhirnya tertangkap karna laporan dari paman Retaka.

Ku hela nafasku panjang mengingat berapa lama harus berlalu dan berapa lama Solar harus menderita, tak heran dia begitu membenci saudaranya.

     Gerbang pavilliun terbuka, para pengawal mempersilakan ku masuk kedalam, pandanganku mengarah ke sekeliling. Tembok paviliun yang dicat putih sudah berlumut, tanaman taman yang sudah layu karna tak pernah dirawat menjadi pandangan pertama yang terekam oleh mataku. Apa pelayan disini kerjaannya tidur aja..? Kalo Thorn melihat ini dia pasti marah besar, secara diakan maniak  berkebun.

'' saya memberi hormat pada pangeran kedua kerajaan..'' seorang pelayan memberi hormat padaku. Aku bisa menebak bahwa wanita paruh baya ini adalah kepala pelayan.

''Weeeeeei ...... aku masih belum terbiasa dengan semua ini ''

Aku mengganggukkan kepalaku, image Taufan adalah pangeran yang suka bercanda tapi tolong jangan remehkan pangeran kedua kita ini, dia bisa membunuh dengan senyuman.

'' antarkan aku ke adik bungsuku dong ..'' nadaku sedikit bercanda ditambah senyuman ceria yang biasa Taufan pajang di wajahnya.

'' baik yang mulia ...'' pelayan itu mengangkat wajahnya memperlihatkan manik merah mudanya yang berkilau kala terkena pantulan cahaya. Ada sedikit tatapan merendahkan yang mengarah padaku. Wanita ini pikir aku tak tau apa tatapnya itu B@NGKEK ....

  Wanita itu berjalan didepanku dengan anggunnya diikuti olehku dan dua pengawal lainnya di belakangku. Ini seperti seolah kami yang mengawalnya  itu hanya pemikiranku saja sih. Saat sampai ke sebuah ruangan, pelayan itu dengan sopan mengetuk tiga kali kemudian memberitaukan bahwa aku telah datang, apa dia sedang jaga image didepanku, aku muak kalo harus memasang wajah ceria ini terus.

'' Tuan muda Solar.? pangeran Taufan datang berkunjung....'' dia menyebutnya tuan muda bukan pangeran betapa lancangnya!?.

Kriek.........

Pintu perlahan terbuka menampilkan sosok anak kecil berusia lima tahun yang menoleh dari ambang pintu dengan setengah badannya masih bersembunyi di daun pintu.

'' ma....masuklah ..... kak... eh ... pangeran....'' seolah kata kakak itu adalah kata yang tabu baginya ..... dia dengan canggung menggantinya dengan panggilan pangeran.

'' kalian pergilah aku mau menghabiskan waktu bersama adikku ...'' titahku

'' tapi pangeran. ?''

'' ini perintah .....'' ujarku sembari tersenyum. Pelayan ini pasti ingin tau apa yang mau aku lakukan pada Solar takut kalo semua tindakannya akan  terbongkar kan.

'' baik yang mulia .....'' pada akhirnya mereka tunduk juga dan pergi meninggalkan kami berdua. Aku memasuki kamar Solar dan mendudukan diri disofa.

Mataku meneliti sekitar mendapati kamar ini baru saja dibersihkan. Juga dilakukan dengan terburu buru serta dilakukann dengan asal asalan ya,  Anak itu menutup pintu dengan sedikit menjijit. Kemudian pandangannya mengarah ke arahku dengan tatapan takut.

hikari no kakera (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang