Chapter 4: dinginnya pangeran ceria

1.5K 159 124
                                    

   Pelayan itu langsung bersujud di hadapanku, sembari terus meminta maaf.

'' maafkan hamba yang mulia. tapi hanya ini yang ada di pavilliun ini .....!!'' Ungkap sang pelayan.

'' Hanya ini ....!? Apa kerajaan tak sanggup memberikan makanan yang layak dan gajih yang cukup untuk kalian, sampai kalian memperlakukan kami dengan rendah seperti ini....? '' tatapan amarah ku layangkan ke arah pelayan itu. Sempat aku melirik ke arah cookies  yang tersaji.

'' beribu maaf yang mulia pangeran kedua ..... '' tubuh pelayan itu gemetar.

   Dan betapa terkejutnya aku saat mendapati beberapa Cookies telah berjamur.... kulayangkan pandangan ke arah Solar yang akan mengunyah sebuah biskuit, dengan sigap aku menarik biskuit itu dari tangan mungilnya.

'' ah.... kakak, biskuitnya ...!?'' Ungkapnya terkejut.

'' Solar .... makan ini gak layak untuk dimakan bahkan tak pantas diberikan pada binatang sekalipun....'' aku memberikan senyuman lembut padanya.

'' tapi kak, para pelayan selalu memberiku itu .....'' clutuk anak itu sambil mengembungkan pipinya kesal.

    Mendengarnya aku langsung terdiam.... selama ini anak ini diberi makan makanan yang seburuk ini...? Anak sekecil ini  yang masih masa pertumbuhan diberikan makanan kadaluarsa.

Pelayan itu menatap Solar tajam, melihat tatapan sang pelayang Solar langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kakak.

   Tentu saja aku marah, anak yang harus diberikan kasih sayang malah terlihat menyedihkan seperti ini.

'' Siapa yang memberimu hak untuk menatap tuanmu seperti itu ....!?'' nada penuh penekanan ku berikan ke arah pelayan wanita itu.

Seakan tak berani bicara pelayan itu menyembunyikan wajahnya dalam posisi sujud.

'' jangan kira hanya karna aku pangeran kedua kerajaan, kau bisa seenaknya.... ingat setatus mu hanya seorang pelayan yang harus melayani keluarga kerajaan, ah ....karna biskuit ini dibuang sayang, kenapa tidak kau saja yang habiskan....'' mendengar titah itu, sang pelayang langsung mengangkat wajahnya, keringat dingin membasahi pelipisnya.

'' Tapi pangeran .....saya.....''

'' kau mau menentangku .... setelah mengetahui kalian memberiku makanan yang tak layak seperti ini ..? '' ungkapku sembari mengoyang goyangkan biskuit di tanganku.

Aku mengangkat Solar dari pangkuanku dan meletakkan dia di Sofa tempat sebelumnya aku duduk, sesekali aku mengusap kepalanya, kemudian ku langkahkan kakiku ke arah sang pelayang yang masih mematung.

'' kau beruntung yang datang bukan putra mahkota atau pangeran Gempa yang akan langsung membawamu ke sidang pengadilan ..... bukankah aku sudah cukup berbaik hati padamu ...'' aku membisikkan beberapa kata yang langsung membuatnya tertunduk.

'' makanlah ....!! '' aku menyodorkan semua biskuit yang tersaji  sebelumnya ke arah sang pelayan.

'' baik ......'' ungkap si pelayang  tangannya gemetar saat akan memasukan bikuit itu ke dalam mulutnya.

'' habiskan .....!!'' Pintaku sembari memberi penekanan pada kata yang ku ucapkan.

Setelah pelayan itu menghabiskan biskuit  itu dia langsung menutup mulutnya, dengan wajah pucat dia berusaha menahan mual yang menjalar di perutnya. dengan perlahan dia  mengangkat wajahnya  guna mendapati tatapan rendah dan seringaian dari sosok ceria pangeran ke dua tersebut.

'' Bagus ..... sekarang kau boleh pergi....'' pintaku.

'' terimakasi pangeran ....'' dengan langkah cepat pelayan wanita itu meninggalkan ku dan Solar.

hikari no kakera (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang