chapter 11 waktunya pembalasan

1.1K 147 45
                                    

      Aku menyetujui persyaratan Gempa,  walau aku ragu pada syarat yang ke dua untuk mempertemukan Gempa dengan Solar, tapi apa boleh buatkan....

" Fang ....!!" Aku memanggil Fang  dan dengan cepat dia sudah berada di belakangku sembari  membungkuk hormat.....

" ya yang Mulia ..... anda memanggil..?  "
Ujarnya, aku sedikit meliriknya perasaan marah dan kecewa membuatku sulit berexpresi seperti biasanya.

" Tolong temani pangeran Gempa melapor pada raja ..... aku akan ke Pavilliun Cahaya ...." mendengar intonasiku membuat Fang sadar bahwa ini bukan candaan.

" Baik yang mulia ......." Fang tak berani melawan akan permintaan atasannya kali ini .... dia tau kalo ini serius, meski dia ingin membantah karna laporan yang dibuatnya baru diketahui Taufan semalam, namun melihat betapa seriusnya Taufan saat ini membuat Fang mengurungkan niatnya. Fang bahkan berani jamin bahwa Taufan sama sekali tak tidur semalam.

" mari yang mulia Gempa .... hamba akan menemani anda ...." ujar Fang sembari mengiring Gempa menjauh.

" Tapi kak Taufan ....!?" Gempa melirik ke belakang melihat Taufan sudah berjalan ke arah sebaliknya menuju ke arah pavilliun Cahaya berada.

Ada sedikit raut sedih terpancar pada wajah tampan Gempa. " yang mulia .... apa ada yang membuat pangeran Taufan tersinggung .......? Suasana hati pangeran Taufan saat ini sedang tidak baik ..."

" tadi kak Taufan dan kak Hali sempat adu argumen soal Solar ..... mungkin itu sebabnya...." ujar Gempa sendu ... Fang membuat wajah terkejut karna tak biasanya Taufan memilih melawan argumen dari Halilintar.

" saya mengerti .... ada baiknya setelah ini biarkan pangeran Taufan dan pangeran Halilintar menenangkan diri terlebih dahulu .... " Gempa menganggukan kepalanya pelan setelah mendengar saran dari Fang. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang kerja Raja.


















     Aku saat ini berdiri di pintu gerbang pavilliun cahaya.... sebelum penjaga itu mengumumkan kehadiranku dengan cepat aku membekap mulutnya dan menatapnya tajam.

" jangan sesekali kau buka mulutmu tentang kedatanganku atau kau akan menyesal ....!? " ancamku .....

Dengan keringat dingin penjaga itu hanya mengangguk patuh.... tentu saja aku tak bodoh aku membawa beberapa prajurit kepercayaanku bersamaku, penyelamatan memang penting tapi nyawa juga pentingkan.

Saat mencapai koridor aku memerintahkan beberapa dari mereka menangkap semua penjaga serta pelayan yang bekerja di pavilliun cahaya tanpa terkecuali, sementara aku akan ke kamar Solar untuk memastikan bahwa anak itu baik baik saja.

" kalian pergilah dan tangkap semua pelayan serta penjaga yang bekerja disini .... jangan sisakan satupun...!? Kumpulkan mereka di taman Pavilliun ... " ungkapku tegas, Mata safir ku seolah menyala marah. Mereka dengan cepat menganggukkan kepala dan pergi begitu saja menyisakan satu prajurit di sampingku.

" aku mengandalkan kalian kurokaze ..."
Ujarku sembari menutup mata menenangkan gejolak amarah yang bersarang di dadaku.

" sesuai perintah anda tuan ....." perajurit itu pun menghilang dengan cepat menyisakan hembusan angin pelan disekitarku, aku kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar Solar.

Tak kusangka seorang palayan berjaga diluar kamar solar, ya ....pelayan bukan penjaga, sesaat setelah melihatku raut wajah panik ditampilkannya, seolah menyembunyikan sesuatu.

" sa.....salam yang mulia Taufan ...." sembari menundukkan kepalanya. Aku tak menghiraukannya aku hanya terus memacu langkahku kedepan melewati sang pelayan wanita itu.

hikari no kakera (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang