Dimana aku ....?
Kenapa tempat ini terasa tak asing bagiku?
'' yahoooo.... ''
'' uaaaaaaa....!! Taufan...?'' Aku terkejut bukan main saat melihat orang yang seharusnya menjadi wadah jiwaku berada tepat di belakangku saat ini, apa lagi saat aku harus memanggilnya dengan nama yang sama saat aku berada dalam tubuhnya dulu.
'' kikiki ... kau kaget begitu, tapi yaaaaaa... cepat juga kau datang menemuiku, kangen ya ..?'' Taufan menatap ku dengan pandangan sedikit mengejek. Aku hanya bisa mengembungkan pipiku kesal. Tapi tunggu dulu kalau aku disini berarti aku sudah.... mimik wajahku berubah menjadi pucat saat menyadari apa yang terjadi pada tubuh yang ku tempati.
'' oiiiiiii, kenapaa pucat gitu santai aja lagian kau kan belum mati. '' ujar Taufan sembari mengangkat kedua bahunya acuh, itu membuatku menarik nafas lega, namun kata selanjutnya yang keluar dari mulutnya membuatku semakin cemas '' ya ... setidaknya untuk saat ini ''
'' tubuh bagian dalam yang rusak, walaupun sudah diobati oleh tuan Rimba tapi masih ada beberapa yang tak bisa disembuhkan '' lanjutnya mulai mengidentifikasi layaknya dektektif.
'' tapi jangan khawatir , Tubuh itu kan emang udah rusak dari dulu paling lama bertahan paling setahun lagi, hehehe '' dengan santainya Taufan membicarakan tubuhnya sendiri. Tentu saja aku hanya bisa melongo tak percaya, '' kok lo santai banget bilang gitu '' heranku.
Taufan hanya berjalan memutariku lalu tiba tiba iya berhenti didepanku dan menyentil jidatku tanpa alasan, '' aduh!?... apasih mau lo Fan ..?'' Taufan hanya cengengesan. Tindakan gak jelasnya membuatku kesal jidatku yang mulus malah ada merahnya karna pangeran less ahlak ini. '' ya gimana ...? Dengan tubuh yang menampung kutukan itu apa yang akan kau harapkan .... ?'' Ujarnya sambil mengangkat habunya seolah pasrah.
Aku hanya bisa bernafas lelah '' kau benar '' ujarku mendudukan diri karna lelah dengan semua ini, rasanya disini lebih tenang dan damai dari pada konflik di luar sana. '' Fan ....?'' Taufan yang merasa terpanggil pun segera menghampiriku '' ada apa ...?'' Aku menatap Taufan dengan tatapan lelah '' apa aku boleh menyerah saja .....? Aku lelah sekali '' Taufan terdiam, detik kemudian dia menggeleng kuat '' jangan sekarang !? Tahanlah sedikit lagi Bayu.. aku tau ini sulit, tapi aku yakin kau bisa menghadapinya '' ujarnya meyakinkan ku.
''Tapi aku lelah, lelah terluka, lelah berjuang. Lelah pada tubuh yang setiap hari harus meminum pain killer untuk sekedar menjaga kesadaranku. Lelah karna kurangnya tidur gara gara para assasint yang keluarga bangsawan lain kirim. Aku mau disini saja istirahat '' Taufan terdiam dia juga pasti sudah memperhatikanku dari dulu.
Sebuah pelukan ku dapatkan dari Taufan '' maaf telah membuatmu kesusahan, tapi Bayu ... kali ini saja aku mohon tahanlah sedikit lagi...!? Aku berjanji padamu setelah ini selesai kau akan bisa beristirahat dengan tenang, jadi kumohon selamatkan saudaraku ''
'' bukan saudaramu ...!?'' Bantahku tegas '' tapi saudara kita ...!?'' Lanjutku Taufan terdiam sejenak namun kemudian seulas senyuman terpatri di wajahnya '' iya kau benar , saudara kita '' aku tersenyum membalas senyuman Taufan sampai cahaya hijau meliputi tubuhku.
'' Ini ...?''''Ini sihir milik Thorn dan Rimba.!? Ya kurasa aku tak diijinkan terlalu lama disini '' ujarku sembari memejamkan mata.
" TAUFAN ..!? BERTAHANLAH !!''
''KAK TAUFAN .... !! BUKA MATAMU KAK''
'' sial .... kenapa di belum bangun jugaa ini sudah satu jam '' batin Beliung. Beliung berjalan mendekat sembari memperhatikan setiap lekuk wajah Taufan. Pucat pasi itulah gambaran yang dilihatnya saat ini.
'' Rimba hentikan, anak ini hanya butuh sedikit istirahat.... '' pinta Beliung, Rimba tentu saja tak percaya, suhu tubuh Taufan yang menurun drastis serta nafas yang tak beraturan siapa yang akan percaya dengan penuturan Beliung.'' Tidak bang ..!! Anak ini kritis sekarang, kalau begini terus dia bisa ..."
''RIMBA ..... !'' Beliung sedikit berteriak ke arah Rimba membuat Thorn bahkan Rimba menghentikan pengobatannya '' percuma saja, ini adalah resiko yang harus ditanggungnya '' lanjut Beliung dengan suara serak.
'' ini semua salah Thorn kalo saja Thorn yang jadi wadahnya, kak upan pasti akan baik baik saja '' Thorn menangis sesegukan sembari membenamkan wajahnya dia dada sang kaka. Sampai suara erangan kecil lolos dari bibir pucat Taufan '' Thorn ... berat...!,''
'' kak Upan ...!? '' semua mata disana terbelalak tak percaya saat mendapati manik safir itu terbuka kembali. '' ada apa ....? Apa aku tidur terlalu lama ?'' Geran Taufan sambil melihat sekitar.
'' Beliung ....?'' Taufan menatap Beliung dengan pandangan heran, yang ditatap hanyaa bisa bernafas lega sembari berguman kecil '' kau benar benar tangguh ya bocah '' mendengar itu Taufan hanya tersenyum cerah sembari menerima pelukan dari sang adik.
'' oh ya Ice bagaimana ..?'' Tanya Taufan agak cemas. '' dia baik baik saja sekarang kutukannya sudah hilang sepenuhnya '' ujar Beliung menjawab kecemasan Taufan. Mendengar itu Taufan bernafas lega lalu kembali mengusap kepala Thorn yang masih memeluknya erat enggan dilepaskan.
Jelang beberapa hari Ice sadar dan betapa terkejutnya saat menyadari dia telah bebas dari kutukan itu dan akan kembali ke panti untuk menjeput saudaranya yang lain.
'' tuan Beliung dan Tuan Rimba terimakasi telah menolong kami '' ujar Taufan lembut dan dengan senang hati Rimba menyambut uluran tangan tersebut '' tentu saja, tapi Taufan ada baiknya kau kurangi mengonsumsi itu '' saran Rimba sembari sedikit meremas tangan Taufan. '' akan ... ku... usahakan hehehe...'' tawa canggu keluar dari bibir pucatnya. Thorn menatap Rimba dan Beliung sebelum akhirnya memeluk kaki mereka berdua '' aku akan merindukan kalian '' aawwww betapa lucunya batin keduanya.
'' hmmmm, terimakasi telah merawat kami selama ini'' ujar Ice sopan.
Beliung tak banyak berkata kata karna sudah dijawab semua oleh Rimba.
'' jaga diri kalian ....'' hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Sembari menyaksikan ketiga anak burung itu pergi meninggalkan sarang mereka.
'' akhirnya pergi juga .... Rimba aku lapar ...'' Rimba hanya tersenyum sebari masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makanann untuk abangnya tercinta.
.........
'' dimana kak Revan pergi...? Gelombang kegelapannya kuat sekali disini '' batin Boy yang menuju ke sisi kain panti.
Sampai langkah kakinya mengarahkannya ke arah Revan dan Yoru yang saling berhadapan. '' sang putra cahaya telah bangkit, bukankah kau harus segera sembunyi putra kegelaapan...? '' heran Yoru yang tak suka ditatap dengan pandangan tajam seperti itu.
'' kau menjaga hewan kegelapan alasanmu ada di hutan ini juga pasti untuk melindungi mereka bukan begitu penjaga gerbang ...?" Ujar Revan datar.
'' hmmmn ini tugasku, lagian apa hubungannya dengan kau .. ?'' Yoru mengusap pipi naga hitam yang pernah di beli Taufan beberapa waktu lalu di lelang. '' lindungi aku ...'' ujar Revan.
'' hah.....!? ''
'' kalo mengandalkan adikku aku yakin kekuatannya akan sincron dengan putra cahaya dan itu akan membuatku terpental dan terluka makin parah.'' Yoru berpikir sebentar, memang ada benarnya juga apa yang diucapkan dark elf kecil di depannya. '' hmmm, jadi apa yang akan ku dapatkan dengan melindungimu , kau tau dunia itu gak pernah gratis kan ....?''
'' cih dasar Yoru .... masak nolong gak pambrih sih ......'' kesal Yuli yang berada di semak semak tempat Boy sembunyi tentu saja boy mengiyakan ucapan Yuli tanpa sadar.
'' eh ...? Sejak kapan kau disini ?'' Heran Boy.
'' hehe .....'' Yuli hanya tersenyum canggung sambil memakan buah yang entah sejak kapan ada di tangannya.
Tbc ....
See you netx cahpter ....

KAMU SEDANG MEMBACA
hikari no kakera (End)
FantasyCATATAN : CERITA INI HANYA FIKSI DAN TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN DUNIA NYATA, KARAKTER DALAM CERITA INI MILIK MONSTA SAYA HANYA MEMINJAM SAJA. KALO BERMINAT SILAHKAN BACA ...... BANYAK TYPO DAN CERITA MUNGKIN GAK NYAMBUNG. Catatan :gambar bukan...