chapter 29 : pie apa racun nih ?

1K 108 224
                                    

    " hmmmmmm" memiringkan kepala ke kanan.

" hemmmm" memiringkan kepala ke kiri.

"Apa yang kakak lakukan ..?" Gempa menatap bingung dengan sifat kakaknya yang terlihat serius melihat tungku perapian yang masih banyak sisa gosong  di sekelilingnya.

" Gem, mereka sebenarnya membuat pie  apel ya ...? " ujarku sembari mengambil pie hitam dengan banyak gelembung yang  meletus letus.

Gempa yang mendengar itu melangkah ke arahku. Iya menatap kaget apa yang sebenarnya ketiga mahluk itu buat.

" mereka buat apa ini ..? Gak kelihatan pie, lebih mirip kayak buat racun aja. " sarkasnya, Gempa bahkan tak mengerti dari mana wujud pie apel yang dibilang kakaknya.

   Aku penasaran dengan rasanya sehingga aku dengan nekat mengambil sedok disebelahku dan mendekatkan sendok itu ke arah pie itu, Gempa yang melihatnya dengan sigap menahan tanganku.

" kakak gila ya, mau makan itu ..!?" Wajah kesal terlihat jelas di wajahnya.

" eh.... tapi ini buatan saudara kita, aku hanya ingin tau rasanya. " ujarku sembari meletakan ujung sendok di dekat bibirku, berharap itu bisa membuat Gempa mengijinkanku untuk sedikit mencicipi pie itu.

" tidak, tetap tidak kak, nanti akan ku buatkan yang baru tapi ini bahkan tak layak disebut makanan manusia. " Gempa malah menjauhkan pie itu dariku lalu membuangnya ke tempat sampah, aku hanya bisa memandang dengan pandangan kecewa belom juga dicoba. Siapa tau kalau rasanya lebih enak dari penampilannya kan..?

" kak Upan serius mau makan, makanan  yang kayak kotoran itu...?" Thorn memunculkan kepalanya dari seberang meja, wajah imut itu malah tak sesuai dengan ucapan yang keluar dari mulut mungilnya.

  Aku hanya bisa menghela nafas lelah, aku mulai berpikir apakah ini benar benar gak apa apa. ??, dekat dengan mereka hanya membuat ruang ringkupku untuk bergerak menjadi terbatas, ditambah entah kenapa aku tak mau mereka terluka, aku di kehidupan sebelumnya adalah anak tunggal dan sekarang aku malah memiliki banyak saudara, apa gak masalah aku menganggap mereka saudaraku juga...? Apa Taufan gak akan marah  denganku kalo aku mengambil perannya..?

" kak...!"

Dia sendirikan yang memberikan peran ini padaku ? Jadi.

" Kak TAUFAN .....!?"

"AH... ya, ada apa ..? " aku menatap  Thorn dan Gempa yang memandang heran ke arahku.

" kak Upan melamun apa ...? Thorn panggil gak nyahut nyahut. " ujarnya kesal.

.ah aku melamun lagi, harusnya aku menjawab mereka!? Aku tak boleh membiarkan mereka terlibat lebih jauh lagi..! Benar aku harus membuat saudaraku aman, saudara Taufan adalah saudaraku juga aku tak boleh terlalu overthinking. Karna Taufan sendiri yang mengatakan bahwa aku adalah dia kan maka, anggap saja begitu.

" maaf Thorn aku hanya kasian ama kuenya " ujarku mengalihkan topik, aku mengusap kepala Thorn lembut sembari  memberikan senyuman agar anak ini tak curiga.

" kakak yakin wajah kakak seperti memikirkan sesuatu yang lebih runyam dari itu.? " ujar Gempa kawatir.

Aku hanya menatap heran, apa iya ya..? Oke akan ku catat Selain Ice, Gempa juga berbahaya aku harus berhati hati saat bersama mereka. Agar identitasku tak terkuak dengan mudah.

" apa iya..? " pertanyaan itu malah di jawab dengan anggukan kepala dari kedua anak itu.

Aku menatap ke arah atap sejenak guna berpikir mencari alasan, Yang bisa menghilangkan kecurigaan kedua saudara ini.

" ah, kurasa aku mengawatirkan Solar dan Blaze saat bersama Halilintar saat ini, merekakan tak pernah mandi di sungai...." ujarku mencari alasan.

" kau jangan kawatir manusia, ada Glacier dan Boy bersama mereka, selain itu ada anak anak panti lain juga " Balas Revan yang kebetulan lewat didekat kami, Lah anak ini tumben gak pergi bareng adiknya.

hikari no kakera (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang