Chapter 51 : the debate between the girl of destiny and the prince of light

845 101 28
                                        

Taufan membuat sebuah barisan di lapangan, semua prajurit berada dalam setiap barisan menatap Taufan dengan seksama.

'' Dengar semua, Prioritas kita adalah menjaga keaman istana saat acara berlangsung, jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun!? '' tegas Taufan.

'' wih, kak Taufan kalo mimpin pasukan kayak bukan kak Taufan aja '' Blaze menatap dari atas balcon istana yang kebetulan langsung mengarah ke lapangan latihan.

'' gak heran sih kak Taufan jadi panglima pasukan kalo gitu, hey Supra. Bagaimana menurutmu ?'' Tanya Blaze tanpa rasa bersalah.

Supra yang awalnya cuek dengan kelakuan kedua pangeran muda itu langsung tersentak mendengar pertanyaan dari Blaze.

'' hmmm Thorn juga mau dengar pendapatmu tetang kak Taufan. Supra ?''  Thorn berujar semangat, berbeda dengan kedua pangeran ini Supra terlihat enggan untuk menceritakannya. '' i...itu bukan sesuatu  yang bagus unyuk diceritakan '' tegas Supra.

'' kenapa begitu ..?'' Thorn heran, apanya yang buruk kalo menyangkut kakak kesayangannya.

'' itu bukan sesuatu yang harus saya ceritakan '' Supra ingat benar saat wajah Taufan penuh akan cipratan darah musuhnya di medang perang, tatapan kosong dan senyum yang seolah dipaksakan, dia tak ingin melihat itu lagi. Dan Supra takut bahwa  prefective  mereka akan berubah pada Taufan saat mendengar penuturannya.

''Cih. Kau sangat tak seru '' kesal Blaze, perempatan imajiner terbentuk di dahi Supra. '' ah.., maaf saja kalau saya tak seru '' ingin rasanya dia menjitak kepala anak ini kalo saja dia tak ingat statusnya.

'' oke sudah setengah selesai, kak Ice bagaimana ? '' Tanya Solar semangat. Anak itu tak menyangka bahwa membaca dokumen begitu menyenangkan. Ya pada dasarnya dia emang suka membaca.

'' huh, kenapa kak Taufan kuat sih dengan tumpukan kertas ini, aku mengantuk '' keluh Ice sembari menguap lebar, sifat malasnya tak pernah hilang.

Tak sengaja Ice menatap seorang gadis berambut merah dengan panik  berjalan di taman istana. Seolag kehilangan sesuatu '' hmmm, gadis takdir juga diundang ? Gak heran sih '' guman Ice yang dapat didengar oleh Solar.

'' Gadis takdir ..?''

'' oh, kau tak tau ya Sol? '' malas Ice.

'' Solar kak, nama bagus kayak gitu jangan disingkat '' kesal Solar saat namanya disingkat seenak jidat oleh kakaknya ini.

'' hmmm, iya Lar '' malas Ice.

'' Kak Ice!? Solar. S.O.L.A.R, Solar kak. Huh kau Tau lupakan saja!? Lalu siapa gadis takdir .?'' kesal Solar.

'' hmmm. Gadis itu adalah sang pembaca takdir, tugasnya adalah menyampaikan firman dewa kepada penganutnya. Entah itu baik atau buruk'' jelas Ice malas.  Solar menatap gadis itu yang entah bagaimana terlihat cukup anggun di matanya tapi dia malah salpok ama pengawal wanita yang selalu berdiri di samping sang gadis. ' emang ada ya, orang yang punya rambut seunik itu ..? ' batin Solar. Tanpa Solar sadari di atas kepalanya sudah bertengger seekor burung hantu berwarna putih. Diego adalah burung hantu dari gereja yang tertarik pada kekuatan cahaya, maka tak heran burung itu akan mencari Solar.

'' AGH, DIEGO !? TURUN DARI KEPALA ANAK ITU '' Titah Celestia sembari berlari ke arah Solar, sayangnya kakinya terinjak gaunnya sendiri sehingga membuat Calestia jatuh menimpa tubuh Solar dengan tidak elitnya.

'' BRUK ...''

''aduh, agh maaf bocah. Tadi si Diego ada di atas kepalamu, apa kau tak apa ?''
Panik Celestia.  Dengan perlahan Solar membuka matanya, kepalanya sedikit terbentur karna terjatuh batusan.

hikari no kakera (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang