Taufan menatap iba pada kedua saudara ini, tak satupun diijikan mendekati sirambut coklat oleh elf kecil ini, dia tetap memeluk erat sembari menatap benci ke arah semua orang.
" apa aku boleh mendekat ....? " pinta Taufan lembut. Sang elf pun luluh mengingat ucapan Taufan beberapa saat yang lalu, bahwa dia akan menyelamatkan adiknya.
Taufan mendekat secara perlahan ke arah kedua elf muda tersebut, sedikit mengelus pucuk kepala elf yang bersurai coklat muda, Sembari melihat luka sang elf.
" apa kekuatanku cukup untuk menyembuhkannya ..... ? " tanya Taufan ke aarah surai putih yang masih menatap kawatir adiknya.
" kenapa tak kau coba .....!! " si surai putih berujar dingin.
" ........" Taufan hanya tersenyum lembut, Taufan meletakkan tangan kanannya ke dada si elf yang diketahui bernama Boy tersebut.
Cahaya biru keluar dari telapak tangan Taufan, perlahan menyelubungi tubuh Boy, menyalurkan kekuatan ke tubuh anak itu sangat sulit bagi Taufan, kekuatan anginnya seperti tak cukup menyembuhkan anak ini.
Disisi lain .
Solar sedang berjalan jalan di taman kerajaan, anak itu menikmati setiap pemandangan indah di sana sembari ditemani oleh Gempa disampingnya.
Bukan tanpa alasan, Gempa menemani Solar, karna Gempa tak bisa menolak permintaan Taufan.... dia mengajak Solar berkeliling sembari membawa beberapa dokumen, yap ... dokumen tentang data pemerintahan.
" pangeran ..... saya ingin berkeliling taman ini, anda tak perlu sampai mengikuti saya berkeliling ....." Solar berujar sembari memegang daun tanaman di tangannya.
Gempa menatap sebentar sebelum beralih menatap kembali dokumen dokumen yang membuatnya pusing itu.
" kak Taufan menyuruhku menjagamu ... jadi aku akan menjagamu ..!!" Gempa menjawab tanpa menoleh ke arah Solar.
" Kak Taufan gak akan marah jika anda tak menjaga saya, saya cukup percaya diri akan kepintaran saya.... cukup awasi saya dari jauh .... saya tak akan menghilang kok " ungkap anak ini sedikit sombong.
Gempa hanya menatap lelah.... sebelum menghela nafasnya berat. Jujur Gempa sendiri bingung harus menjawab apa, di satu sisi dia harus menyelesaikan dokumen dokumen ini, disisi lain dia harus menjaga Solar atas permintaan Taufan.
Pada akhirnya Gempa hanya menganggukkan kepalanya, " baiklah aku akan mengawasimu dari bangku taman, jangan bermain terlalu jauh ....!?" Ungkap Gempa lembut, tangannya terangkat berniat mengusap rambut Solar, namun seketika dia tersadar dan kembali menarik tangannya.
Gempa berjalan menuju bangku taman, mendudukan dirinya di taman sembari mendongak ke atas, memandang langit biru yang di temani sang awan.
" ini melelahkan ..... kak Taufan cepatlah kembali ....!? Gempa lelah kak..."
Kembali pandangan Gempa terarah ke arah Solar yang terlihat asik meneliti beberapa tanaman, pasalnya ada beberapa tanaman yang berguna untuk obat...
" anak itu semangat sekali ..... syukurlah untuk saat ini gak ada masalah, sekarang aku bisa agak tenang menyelesaikan ini...." kembali fokus Gempa mengarah pada dokumen yang dia pegang.
Solar memandang sebuah bunga red spider lili, keindahan bunga itu membuat anak ini tertarik untuk mengambilnya.
" itu bunga yang indah kan.....? " Seketika tangan yang sempat ingin memetik bunga spider lili itu terhenti. Solar mendongakkan kepalanya keatas, dan mendapati manik hijau cerah yang menatap penuh ketertarikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
hikari no kakera (End)
خيال (فانتازيا)CATATAN : CERITA INI HANYA FIKSI DAN TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN DUNIA NYATA, KARAKTER DALAM CERITA INI MILIK MONSTA SAYA HANYA MEMINJAM SAJA. KALO BERMINAT SILAHKAN BACA ...... BANYAK TYPO DAN CERITA MUNGKIN GAK NYAMBUNG. Catatan :gambar bukan...