Page Fifty Three

31.1K 1.5K 19
                                        

53. Saturdate with Sean

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Senin hingga Jumat Harvey dan sahabat-sahabatnya menghabiskan waktu di dalam mansion. Mereka fokus belajar bersama, mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang akan segera datang. Aktivitas ini membuat waktu berjalan cepat, nyaris tanpa jeda.

Akhirnya, akhir pekan yang mereka nantikan tiba. Mereka sepakat untuk berhenti sejenak dari rutinitas belajar yang melelahkan. Ini adalah waktu untuk bersantai, melepas penat, dan menikmati kebebasan. Luka-luka pada tubuh mereka, meskipun belum sepenuhnya hilang, kini hanya meninggalkan bekas samar.

Harvey sudah memutuskan untuk mengunjungi sebuah pameran seni, sementara sahabat-sahabatnya memilih untuk menghabiskan waktu dengan cara masing-masing. Ada yang menikmati momen me time, ada pula yang berkencan dengan pasangan mereka.

Di pameran, Harvey menikmati setiap sudutnya. Waktu berlalu tanpa terasa, hingga dua jam lebih ia tenggelam dalam karya seni yang dipamerkan. Kini, ia berdiri di tepi jalan, menunggu jemputan dari kekasihnya.

Sambil menunggu, Harvey mengeluarkan ponselnya dari tas yang bergelantung di tangan kanan. Ia membuka aplikasi game, mencoba mengusir rasa bosan. Akan tetapi, baru enam menit berlalu, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Tas Harvey dirampas tepat di depan matanya. Ia tidak berusaha mengejar pelaku. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyum tipis, senyum yang hanya ia mengerti maknanya. Lalu, dengan cepat, Harvey mengubah ekspresinya menjadi sedih—ekspresi yang sempurna untuk memancing simpati orang-orang di sekitarnya.

"Yang sabar ya, Mbak," ujar seseorang yang berdiri tak jauh darinya.

"Mbaknya masih kaget ya? Kalau mau, saya bisa bantu lapor polisi," tambah orang lain dengan nada prihatin.

"Memang harus hati-hati sekarang, Mbak. Copet ada di mana-mana. Saya selalu pakai tas selempang biar aman," ujar seorang wanita sambil memegang tasnya erat.

"Kalau bisa, cek CCTV aja, Mbak. Itu, ada CCTV di tiang sana." Wanita itu menunjuk kamera pengawas yang sebenarnya sudah lebih dulu diketahui Harvey.

Harvey tersenyum lembut dan mengangguk sopan. "Terima kasih atas sarannya. Saya akan coba cari pelakunya nanti. Tapi sekarang saya harus pergi, tunangan saya sudah menjemput."

Harvey berpamitan dengan anggun, berjalan menuju mobil yang terparkir di ujung jalan. Penampilannya tampak tenang, hampir seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, di balik sikap tenangnya, Harvey menyembunyikan sebuah rencana yang hanya ia ketahui.

Tiba-tiba, suara pintu mobil yang tertutup mengalihkan perhatian Sean dari ponselnya.

Dengan senyum senang, Sean menatap Harvey yang sedang mengenakan seatbelt.

"Yang lain sudah berhasil kejar, barang kamu aman di anak buah aku," ucap Sean begitu Harvey selesai memasang seatbelt.

Harvey membalas dengan senyuman manis, lalu mengecup bibir tunangannya. "I owe you a lot, sayang."

Semburat merah menjalar dari pipi hingga ke kuping Sean. Berdeham sejenak untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, Sean menatap ke depan dan mulai menjalankan mobil.

"Hm, sudah kewajiban aku untuk membantu kamu, Grace," balas Sean berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berpacu lebih cepat.

Harvey terkekeh, melihat Sean yang tampak menggemaskan dengan ekspresi gugupnya. Tanpa ragu, ia mengambil tangan kiri Sean yang menganggur dan menggandengnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sean.

"I know, but I still have to thank you for helping me with everything I've asked," kata Harvey dengan penuh rasa terima kasih.

Mobil berhenti karena lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah. Sean menoleh ke kiri, dan tanpa disadari, Harvey pun ikut mengangkat kepalanya untuk menatap tunangannya.

Gue Figuran? | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang