Page Twenty Two - Twenty Three

44.4K 2.3K 67
                                        

22-23. Mengejutkan

Dinginnya udara pagi tidak membuat Harvey beranjak dari tempatnya. Ia tetap duduk di atas rooftop, menikmati sejuknya udara pagi hari sambil memandang ke bawah, di mana lapangan mulai dipenuhi para murid yang berdatangan satu per satu. Harvey lebih memilih menikmati pemandangan dan ketenangan di sini daripada harus menunggu di dalam kelas.

Namun, kening Harvey berkerut saat melihat Thea keluar dari mobil yang ditumpangi oleh Fanya, Xiaoting, dan Haruka. Bukankah ia sudah meminta Kevan untuk memberi tumpangan kepada Thea? Harvey merasa bingung mencoba mencari alasan di balik kejadian ini.

Pada saat yang bersamaan, para anggota Inti Lion Cave datang. Mereka yang sudah mengetahui akan ada keributan memilih untuk tetap berada di lapangan, mengamati situasi. Erlang tampak membonceng seorang perempuan yang terlihat memakai perban di kepalanya.

Namun, kejadian yang diprediksi tidak terjadi. Sahabat-sahabat Harvey tampak mengabaikan keberadaan Inti Lion Cave yang membuat semua orang di sekitar mereka merasa heran.

"Wah, gila ... kesambet apaan mak lampir kagak nyamperin lo?" celetuk Deri saat melihat Fanya dan teman-temannya melewati Inti Lion Cave begitu saja tanpa melirik sedikit pun.

"Caper," jawab Erlang singkat sambil membantu Ayanna turun dari motor.

"Bener, tuh. Pasti lagi rencanain sesuatu," tambah Digo menimpali.

"Jangan begitu, Kak," tegur Ayanna setelah turun dari motor dan berdiri di samping Erlang sambil membiarkan Erlang merapikan rambutnya.

"Cewek macam Fanya nggak mungkin diem aja pas liat lo dibonceng Erlang. Itu cewek dari MOS selalu ngejar Erlang sampe kita ngerasa risih," jelas Deri seraya mengangguk disetujui oleh Digo dan Jose.

"Siapa tau Kak Fanya udah nggak suka lagi sama Kak Erlang," jawab Ayanna berusaha berpikir positif.

"Nggak mungkin, setahun lebih ngejar Erlang, masa udah nggak suka? Lo kemarin sampe diperban, kan, gara-gara dia?" ucap Digo tak percaya dengan perkataan Ayanna.

Ayanna memberengut, merasa bersalah. "T-tapi, itu emang salah Aya. Seharusnya, Aya nggak deket sama kalian, apalagi sama Kak Erlang. Kasian Kak Fanya, pasti sakit hatinya. Makanya kemarin Kak Fanya lempar gelas ke Aya."

"Lo ngomong apa, sih? Lo berhak deket sama gue, lo udah jadi pacar gue. Jangan mikirin cewek itu," ketus Erlang terlihat kesal.

Ayanna semakin memberengut mendengar perkataan Erlang. Melihat reaksi itu, Erlang, Digo, Deri, dan Jose hampir memekik gemas dalam hati mereka.

"Nggak usah pikirin mak lampir, Queen. Kalau mak lampir macam-macamin lo lagi, kita bakal bertindak buat balas," cetus Deri mencoba meredakan suasana.

"Liat aja nanti, pasti bakal bikin masalah lagi," yakin Digo merasa apa yang ia katakan pasti akan terjadi, karena menurutnya Fanya selalu punya cara untuk menimbulkan keributan.

"Cabut," ucap Erlang singkat, tak lupa melingkarkan tangannya ke pinggang Ayanna. Mereka berdua mulai berjalan menuju ruang kelas, diikuti oleh para anggota Inti Lion Cave yang berada di belakang mereka. Sementara itu, Raka dan Kevan hanya memperhatikan situasi, menatap sekitar dengan penuh kewaspadaan, seolah-olah siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.

***

Harvey kembali memilih duduk di pojokan rooftop, satu-satunya tempat yang tersedia kursi. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk menunggu bel berbunyi. Tubuhnya masih terasa lelah mengingat semalam ia begadang dan harus bangun pagi sekali.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka memecah keheningan di sekitar rooftop, menandakan bahwa ada seseorang yang baru saja memasuki area tersebut.

Kemudian, terdengar suara kecupan yang cukup nyaring membuat Harvey terkejut dan membuka matanya. Keadaan rooftop yang sepi membuat suara itu lebih terdengar jelas, membuatnya semakin penasaran.

Gue Figuran? | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang