Page Fourty Three

31.1K 1.6K 14
                                        

43. Clear

Suara pintu terbuka dengan keras, membuat pria paruh baya yang tengah fokus menatap berkas-berkas di mejanya terkejut. Matanya terbeliak saat sosok wanita dengan ekspresi penuh emosi masuk ke ruangannya.

"Saya butuh keadilan!" teriak wanita itu dengan suara yang penuh amarah, wajahnya memerah karena kesal.

Pria itu langsung berdiri dari kursinya, merapikan jasnya dengan tenang, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Bisa duduk terlebih dahulu, Ibu?" tanyanya, suaranya lebih tenang mencoba meredakan ketegangan.

Wanita itu, yang tak lain adalah Saras Alandy, ibu dari Ayanna, melangkah maju dengan anggun. Ia duduk di kursi yang disediakan, lalu menyilangkan kakinya, menatap pria di depannya dengan dagu terangkat, ekspresinya menunjukkan kemarahan yang mendalam.

"Saya butuh keadilan!" tekan Saras lagi, suaranya lebih tinggi, seolah tak peduli dengan permintaan pria itu.

Pria paruh baya itu menghela napas, berusaha tetap tenang. "Ibu Saras, mohon tenang dulu. Saya juga sudah mendengar dari sekretaris saya tentang kondisi Ayanna. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyanya sambil duduk di sebuah sofa single yang terletak di pojok ruangan.

Saras terdiam sejenak, tetapi tiba-tiba air matanya mulai mengalir. Suasana yang semula tegang berubah menjadi lebih emosional saat wanita itu menundukkan wajahnya, menahan tangis.

"Anak saya, Fer! Anak saya kritis." Suara Saras bergetar dan tangisnya tak bisa dibendung lagi. Semua perasaan kesedihan dan frustrasi yang tertahan selama ini akhirnya meledak. "Anak saya, Fer... dia terluka parah. Dia terbaring lemas di rumah sakit... Saya cuma ingin dia hidup bahagia. Setelah bertahun-tahun saya mencarinya, saya akhirnya menemukannya. Tapi lihat apa yang terjadi, Fer..." tangis Saras semakin keras dan tubuhnya bergetar.

Ferry Williams yang dikenal sebagai kepala sekolah VI International High School, hanya bisa menatap dengan hati yang berat. Dia tahu betapa pentingnya Ayanna bagi Saras dan melihatnya dalam keadaan seperti ini membuatnya merasa semakin terperangkap dalam dilema.

"Saya sudah bertahun-tahun mencari dia dan akhirnya saya menemukannya," lanjut Saras mengusap air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. "Saya berharap dia bisa hidup dengan bahagia. Tapi, Fer, lihat apa yang terjadi sekarang. Anak saya... kritis... Kena patah tulang, anemia. Dia terbaring koma, Fer. Saya nggak tau kapan dia bisa bangun lagi... saya minta keadilan. Apa yang terjadi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"

Saras menatap Ferry dengan tajam, matanya dipenuhi amarah dan penderitaan. "Dan apa yang lebih buruk, Fer... ponakan kamu yang buat anak saya sampai seperti ini! Semua ini gara-gara Zefanya!" serunya dengan suara yang lebih tinggi, penuh rasa tidak terima.

Ferry sedikit terkejut mendengar tuduhan itu, tetapi berusaha tetap tenang. "Ibu Saras, saya mengerti kekhawatiran Ibu, tapi bagaimana Ibu tau kalau pelakunya memang Zefanya?" tanyanya pelan berusaha menyaring kata-katanya dengan hati-hati.

Erlang yang selama ini tahu banyak tentang hubungan antara Saras dan anaknya, ternyata sudah memberi informasi kepada Saras sebelumnya. Dengan napas yang tertahan, Saras melanjutkan, "Erlang yang bilang begitu. Dia bilang Zefanya yang menyebabkan Ayanna dalam kondisi ini. Saya juga sudah ingin balas dendam, tapi Ayanna minta saya untuk melupakan semuanya. Bagaimana saya bisa percaya kalau anak dari Vaden sampai berbohong kepada saya? Teman-temannya juga cerita kalau Zefanya dan teman-temannya selalu membuli Ayanna!"

Gue Figuran? | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang