Selamat!! Malming kalian bakalan tambah ngenes baca page kali ini 😍😍😍
Enjoy this page guys!♡
●
●
●
19-20. Pertemuan Ketiga (Soft Sean)
Sean yang sudah sampai di depan mansion Grayra berhenti sejenak. Secara refleks, ia mengangkat kepalanya dan menatap balkon, merasa seakan ada yang mengamatinya. Betul saja, ia melihat Harvey berdiri di atas balkon, menatap langsung ke arahnya. Sean pun memutuskan untuk tetap menunggu di dalam mobil hingga akhirnya Harvey berlari menghampirinya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sean segera memberikan Harvey minuman yang langsung diterima dengan tangan terulur. Kemudian, Sean membantu Harvey mengusap keringat yang bercucuran mengingat jarak antara pintu mansion Grayra dan mobil Sean sangat jauh, apalagi Harvey berlari, bukan sekadar berjalan.
"Thanks," ucap Harvey sambil mengatur napasnya yang belum stabil. Sean hanya mengangguk sebagai respons.
Setelah napasnya mulai terkendali, Harvey menatap Sean yang juga sedang menatapnya.
"Sorry, gue lupa. Tadi gue pulang duluan dari sekolah, lo udah tau kenapa, kan?" tanya Harvey mencoba memberi penjelasan.
"I know. Untung aja Kevan berdiri di depan kamu. Kalau anak itu sampe ngelukain kamu, aku nggak akan diam aja," jawab Sean dengan tenang, meskipun hatinya tidak senyaman perkataannya.
Harvey menyandarkan tubuhnya ke kursi, merasa lelah. "Yeah, whatever. Ayo, ke tempat lo aja, gue capek."
Sean mengangguk, mengusap kepala Harvey dengan lembut, dan mulai mengendarai mobilnya meninggalkan mansion Grayra untuk menuju mansion miliknya.
Harvey sadar bahwa ia selalu diawasi, bahkan kini ada dua orang yang terus mengawasinya. Ia hanya tahu satu orang, yang merupakan milik Kevan. Namun yang satu lagi, ia belum bisa memastikan siapa, meskipun ia menduga itu adalah orang suruhan Regas atau orang tuanya. Tapi dugaan itu berubah saat ia bertemu Sean di taman beberapa waktu lalu.
Harvey tak pernah merasa risih dengan pengawasan itu. Di kehidupan sebelumnya, ia juga selalu diawasi meskipun ia menolak dan mengeluh. Akan tetapi, kedua orang tuanya tak pernah merespons keluhannya. Akhirnya, Harvey memilih untuk diam saja. Toh, hidupnya tak terlalu terganggu, malah ia merasa beruntung bisa hidup bebas tanpa ancaman dari lingkungan sekitar. Jadi, ia membiarkan saja, merasa sudah terbiasa.
"Mansion lo kenapa jauh banget, sih?" keluh Harvey sedikit kesal karena merasa perjalanan begitu lama.
"Maaf, tempat itu memang aku rancang biar nggak banyak orang yang bisa nemuin mansion aku," jawab Sean dengan nada sedikit menyesal.
"Lo nggak punya penthouse atau apartement yang lebih deket?" tanya Harvey sambil menolehkan kepalanya untuk melihat Sean.
Sean menggelengkan kepala. "Nggak ada. Aku selalu pulang ke rumah setiap hari."
Harvey menghembuskan napas panjang. Dalam benaknya, ia merasa aneh. Bukannya orang kaya selalu punya penthouse atau apartement di mana-mana? Ternyata, Sean ini memang agak berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue Figuran? | END
Jugendliteratur⚠️ Warning 18+ Grace Aradina Diandra, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terjebak dalam dunia novel dan menjadi figuran yang hanya disebut-sebut untuk melengkapi cerita. Di dunia baru ini, ia menempati tubuh seorang gadis bernama, yang sepertinya d...
