Page Sixty Two

29K 1.6K 20
                                        

62. The Day

Hari yang dinanti-nantikan oleh para siswa VI International High School akhirnya tiba. Sejak pagi, suasana di sekolah sudah terasa meriah. Setelah acara resmi perpisahan murid kelas dua belas yang dihadiri orang tua pagi tadi, kini seluruh siswa kelas X dan XI tengah bersiap untuk acara puncak di malam hari. Sebuah pesta eksklusif yang sudah menjadi tradisi bertahun-tahun, di mana hanya murid yang diundang untuk merayakan perpisahan dengan kakak kelas.

Namun, semua orang tahu, pesta ini sebenarnya adalah ide OSIS yang dimanfaatkan untuk sekadar bersenang-senang—bukan hanya sekadar penghormatan untuk kelas dua belas. Dan, tentu saja, tidak ada yang ingin melewatkan tradisi tersebut.

Di kamar Harvey, suasana lebih tenang, meskipun ia sendiri sedang mempersiapkan diri. Harvey berdiri di depan cermin, mengenakan gaun malam sederhana namun elegan. Riasannya tipis, tetapi cukup untuk menonjolkan kecantikan alaminya.

"You look so pretty," puji Sean yang sedari tadi memperhatikannya.

Harvey tidak menoleh, hanya tersenyum kecil sambil tetap melihat bayangannya di cermin. "I know. Thank you," jawabnya singkat, nada suaranya datar, tetapi tidak terkesan sombong.

Sean terkekeh, tetapi senyumnya perlahan memudar. Ia berjalan mendekat, lalu menarik pinggang Harvey agar bisa menatap gadis itu lebih dekat. "Aku cemburu. Aku mau ikut kamu. Kenapa aku nggak boleh ikut? Padahal sekolah itu punyaku," gerutunya dengan nada setengah manja, tatapannya sedih.

Harvey akhirnya menatap Sean melalui pantulan cermin. Wajahnya tetap datar, tapi matanya menunjukkan rasa malas menghadapi Sean yang tiba-tiba menjadi cerewet. "Kenapa juga kamu harus hadir dan berdandan cantik kayak gini? Kalau ada yang suka sama kamu gimana?" sambung Sean, kali ini dengan nada seperti anak kecil yang tidak mendapatkan permen.

"Iel." Harvey akhirnya buka suara, nada bicaranya lembut tetapi tegas. "Kamu tau aku ke sana untuk apa," lanjutnya, matanya menatap Sean dengan penuh keyakinan.

Sean menghela napas pelan. "Yeah, I know it," gumamnya lirih. Ia tahu Harvey harus menghadiri acara ini, meskipun ia tidak suka.

Harvey berbalik menatap Sean, senyumnya sedikit melembut. "Gue janji, setelah ini semua selesai, lo berhak buat ngelakuin apa aja, termasuk publish hubungan kita," ucapnya, kali ini dengan nada lebih menenangkan.

Sean tampak terkejut sekaligus senang, matanya berbinar. Akan tetapi, saat ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Harvey memotongnya. "Kecuali hal yang mengarah ke pernikahan," tambahnya cepat.

Sean mendengus kecil, lalu tersenyum pasrah. "Baiklah, kalau begitu. Semoga acaranya sukses, sayang." Ia mencium tangan Harvey dengan lembut, tidak ingin merusak riasannya yang sempurna. Ia tahu betul, jika ia melakukannya, Harvey bisa mendiamkannya selama berhari-hari.

"Sure," balas Harvey dengan singkat, mengangguk pelan sebelum kembali memeriksa dirinya di cermin.

Sean memandangnya sekali lagi sebelum beranjak. Ia tahu malam ini penting untuk Harvey, meskipun hatinya masih sedikit berat untuk melepaskan gadis itu ke acara pesta yang penuh sorotan. Tapi itulah Harvey—kuat, independen, dan selalu tahu apa yang dia lakukan.

***

Malam perpisahan alias prom night kali ini diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima yang terkenal mewah. Ini bukan pesta biasa—dana untuk acara ini kabarnya berasal langsung dari pemilik sekolah. Biasanya, acara seperti ini dibiayai dari patungan para murid yang sebagian besar berasal dari keluarga kaya raya. Akan tetapi, untuk malam ini, ada sentuhan istimewa yang membuat semua orang terkesan. Bahkan murid beasiswa yang biasanya hanya tampil sederhana, merasa malam ini berbeda.

Gue Figuran? | ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang