45. Lancar
Sesosok gadis cantik perlahan membuka matanya. Matanya yang masih berat menunjukkan kalau ia baru saja bangun tidur. Setelah beberapa menit melamun guna mengumpulkan nyawa, ia duduk sambil meregangkan tubuhnya.
“Gila, udah sore aja,” gumam gadis itu—Harvey—terkejut sebelum bergegas mandi.
Setelah mandi sepuluh menit, Harvey keluar dengan rambut basah yang terurai. Perutnya yang berbunyi meminta diisi membawanya ke ruang makan. Ketika sampai, suasana ruang makan tampak sepi, hanya ada beberapa maid yang tengah bertugas.
“Nona mau makan apa?” tanya salah satu maid setelah Harvey duduk di kursi makan.
“Anything,” jawab Harvey santai. Ia terlalu malas untuk memutuskan.
“Baik, saya permisi dulu,” pamit maid itu sebelum pergi.
Harvey mengisi waktu dengan memainkan ponselnya, menggulir browser untuk mencari tahu kabar terkini. Namun, perhatian Harvey teralihkan saat ia menemukan beberapa artikel yang menarik.
“Mati satu tumbuh seribu,” gumamnya sambil terkekeh kecil.
“Widih, baru bangun lo?” seru Kevan yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
“Menurut lo?” balas Harvey dengan nada sinis tanpa menoleh.
Kevan hanya menggeleng sambil berjalan dan duduk di kursi di samping Harvey. “Tuan muda ingin makan juga?” tanya salah satu maid.
“Samain kayak Harvey,” jawab Kevan singkat.
Setelah maid pergi, Kevan melirik ponsel Harvey yang tengah menampilkan artikel tentang Ayanna.
“Erlang sama tiga temen gue nggak percaya video itu,” ucap Kevan mencoba membuka pembicaraan.
“Kena pelet, tuh,” jawab Harvey asal membuat Kevan tertawa.
“Mulut lo emang tajem,” komentar Kevan masih tertawa.
“Tapi lo sendiri percaya, nggak?” tanya Harvey, akhirnya meletakkan ponselnya dan menatap Kevan serius.
“Percaya, soalnya lo sendiri yang sebarin,” balas Kevan sambil tersenyum miring.
Harvey hanya terkekeh, menyibakkan rambutnya ke belakang. “As I expected.”
“Gue tau dari POV video itu. Cewek itu kayak sengaja celakain diri sendiri. Angle-nya pas banget kayak POV dari Fanya langsung. Lagian, itu alat bikinan lo sama gue, kan?” tambah Kevan mengonfirmasi.
“You’re smart, aren’t you?” goda Harvey diikuti kekehan Kevan.
“Lo juga udah tau kan kartu AS gue?” lanjut Harvey.
“Baru tau dari Raka,” jawab Kevan sambil menopang dagu, menatap adiknya.
“Good, tapi lo udah bilang ke temen-temen lo?”
“Udah, tapi sesuai prediksi lo, mereka nggak percaya. Malah makin nempel terus sama itu cewek.”
“Fix, temen-temen lo kena pelet,” desah Harvey sambil menggeleng nggak percaya.
Kevan tertawa kecil. “Gue kecewa sih waktu mereka lebih percaya sama Ayanna dibanding gue sama Raka yang udah mereka kenal dari dulu. Tapi ya udah, bener kata lo. Kena pelet.”
“Biarin aja. Kalau dia mulai ngelunjak, tinggal sebarin aja semua. Ngurus video yang kesebar nggak gampang, bro,” ucap Harvey dengan santai sambil tersenyum sinis.
“Lo tau dari mana? Udah kumpulin bukti juga?” tanya Kevan penasaran.
“Waktu di rooftop, mereka berdua kissing. Kebetulan gue lagi di sana. Dan iya, gue udah kumpulin bukti. Gue juga udah suruh orang buat ngawasin dia,” jawab Harvey santai tapi tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue Figuran? | END
Roman pour Adolescents⚠️ Warning 18+ Grace Aradina Diandra, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terjebak dalam dunia novel dan menjadi figuran yang hanya disebut-sebut untuk melengkapi cerita. Di dunia baru ini, ia menempati tubuh seorang gadis bernama, yang sepertinya d...
