44. Penyebaran
Begitu pintu mobil tertutup, tunangan Sean masuk dengan wajah masam membuat Sean mengernyitkan dahi. Ia sempat melirik Thea yang ia curigai sedang berada dalam suasana hati yang sama tidak menentunya.
Seperti kebiasaannya, Sean memberi kecupan singkat di pipi kanannya. "Hey, what's wrong?" tanya Sean lembut sambil membelai pipi Harvey, mengabaikan keberadaan dua orang lain di dalam mobil.
Harvey tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut itu. Ketika membuka mata, ia mendapati Sean masih menatapnya dekat, wajah mereka hampir beradu.
Senyum miring tersungging di bibir Harvey. Ia mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Sean. Ekspresi terkejut di wajah tunangannya menghapus ingatan akan kejadian barusan, membuat Harvey semakin bersemangat menggoda.
Dengan sengaja, Harvey melumat bibir Sean perlahan agar Thea dan satu orang lainnya di depan tidak menyadari. Begitu Sean membalas ciuman itu, Harvey kembali menggodanya dengan tiba-tiba mendorong Sean menjauh. "Panas," dalihnya, sementara Sean terkekeh.
"So naughty," bisik Sean lirih, cukup untuk membuat Harvey merinding sedikit.
Di kursi depan, Thea yang memerhatikan mereka hanya melontarkan pertanyaan, "Lo udah ada rencana, kan, Vey?" Saat Sean kembali fokus pada pekerjaannya, Harvey memasang wajah datar.
"Hm, nunggu tinggi dulu," jawab Harvey singkat.
Thea tersenyum puas dan kembali menatap jalan. "I can't wait for that moment, but I'll be patient so that the results are more satisfying, hahahaha," ujarnya terdengar sedikit jahat.
Harvey hanya menggeleng. Saat matanya bertemu pandang dengan Sean yang menuntut penjelasan tanpa kata, Harvey berkata singkat, "Nanti di rumah." Sean mengangguk menerima jawaban itu untuk saat ini.
***
Di rumah, suasana terasa hening ketika mereka tiba. Harvey langsung menuju kamarnya tanpa banyak bicara, sementara Sean mengikuti dari belakang. Begitu pintu kamar tertutup, Sean menatap Harvey dengan serius, tak ingin menunda pembicaraan lebih lama. "So?" tanyanya, suaranya pelan namun penuh tuntutan, seolah mendesak Harvey untuk segera menjelaskan semuanya.
"Wait," jawab Harvey singkat. Ia sibuk menaruh tas, melepas dasi dan ikat pinggang, kemudian membuka kaus kaki. Terakhir, ia membersihkan make up tipis yang menempel di wajahnya. Setelah selesai, ia memutar kursi menghadap Sean yang sudah duduk di ambang jendela besar. Melihat isyarat dari tunangannya, Harvey bangkit dan dengan enggan berpindah duduk di hadapan Sean. Ia membawa serta sebuah bantal, memeluknya erat, lalu menyandarkan punggung pada dinding di belakangnya.
"Tell me," pinta Sean lembut. Harvey mengangguk, lalu mulai menceritakan rencana yang telah disusunnya, lengkap dengan kondisi aktual di dalam lingkaran pertemanannya, serta langkah-langkah yang akan diambil ke depan.
Sean mendengarkan dengan saksama. Ia sudah tahu masalah yang melibatkan Fanya, karena ia sendiri adalah pemilik sekolah tersebut. Kasus perundungan yang terjadi hingga menyebabkan seorang siswi koma bukan perkara sepele. Jika masalah ini menyebar, reputasi sekolah yang dibangunnya dengan susah payah bisa runtuh seketika. Sean pernah menghadapi kasus serupa dan ia paham betapa besar dampaknya.
""Kebetulan habis ini aku ada rapat buat ngebahas kasus itu. Video bukti udah tersebar, jadi mau nggak mau aku harus gerak cepet. Untung tunanganku pinter, jadi bebanku sedikit berkurang. Thank you, babe," ucap Sean tulus setelah Harvey menyelesaikan ceritanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue Figuran? | END
Novela Juvenil⚠️ Warning 18+ Grace Aradina Diandra, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terjebak dalam dunia novel dan menjadi figuran yang hanya disebut-sebut untuk melengkapi cerita. Di dunia baru ini, ia menempati tubuh seorang gadis bernama, yang sepertinya d...
