Pagi hari aku terbangun mendengar sayup-sayup alarm berbunyi di nakas kamar milik pak Arka, dengan malas aku membuka mata dan menghela napas. Mengapa harus selalu ada hari yang sangat menyebal kan setelah hari Senin maka muncul lah Selasa dan seterus nya sedangkan hari paling di tunggu hanya minggu saja.
"ck, sekolah lagi sekolah lagi" ucap ku mengulang kata yang sama
"kata nya mau jadi Psikolog, sekolah aja udah males apalagi kuliah?" pak Arka membuka mata membuat ku menatap nya malas
"kalo kuliah mah bebas kalo sekolah mah enggak" jawab ku asal tanpa berpikir panjang
"kata siapa bebas? Nanti yang ada kamu di kejar tugas sama skripsi an terus loh sayang"
'ahh aku menyesal berbedat dengan nya pagi-pagi seperti ini'
"iya deh iya yang udah tua dan berpengalaman" aku berlari ke kamar mandi takut jika ia malah mengamuk
"ngomong apa barusan" teriak pak Arka dari dalam kamar membuat ku tertawa lepas sambil mengunci pintu kamar mandi
Setelah selesai mandi dengan berendam di buthtub aku keluar menggunkan seragam yang sengaja aku bawa kesana untuk mempersingkat waktu ku untuk bersiap pergi kesekolah nanti nya.
Terlihat jika pak Arka kembali bergulung dengan selimut hitam polos yang selalu menemani ruangan ini meski sering kali di ganti namun hampir setiap hari tetap itu karna hanya ada warna hitam untuk segala keparluan pak Arka, sungguh lelaki pecinta darkness hehe
"nanti di sekolah jangan lari-larian, jangan banyak makan yang pedes juga ya apalagi makan yang asem" ucap pak Arka mengingatkan
"iya Habibi aku bakal nurut ko asal kamu juga nurut" jawab ku puas
"nurut?"
"iya harus nurut, janji jangan pulang terluka dan janji juga jangan deket-deket sama cewek lain apalagi mantan sekertaris kamu yang pakaian nya kurang bahan itu" dengan kesal aku mengucapkan nya saat mengingat wanita siluman seperti sekertaris pak Arka itu
"iya-iya janji ko sayang"
Dengan gontai aku berjalan kearah kantin tempat dimana para teman ku kini sedang berkumpul, entah mengapa pak Arka belum mengabari sejak pergi ke kantor nya, mungkin ia sedang meeting atau sedang sibuk pikir ku mencoba menghibur diri
"kenapa lo? kusut amat tuh muka" ucap Maudy yang pertama menyadari kedatangan ku
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban, bukan tidak ingin bercertia hanya saja aku rasa itu masalah kecil saja lagian nanti akan selesai dengan cepat saat aku bertemu dengan pak Arka langsung. Saat kami asik memakan pesanan masing-masing terdengar jika Gio mendapat panggilan masuk yang membuat nya mengeraskan rahang dan berlalu meninggalkan kami bertiga yang menatap bingun kepergian Gio.
"si Gio kenapa dah?"
"ya gue gak tau lah Ra, emang dia bilang sama gue kalo dia mau pergi kemana kan kagak" jawab Maudy di hadiahi senyuman khas milik Kinara
Gio pov
Saat sedang asik mengscrol sosial media terdapat pesan masuk membuat ku mengerutkan kening, pesan dari teman ku yang sedang bolos sekolah, namun yang membuat terkejut adalah sebuah poto dan sebuah video seorang pria tengah bercanda hingga berprilaku mesra di tempat keramaian umum.
"brengsek" ucap ku pelan agar tidak di sadari oleh ketiga perempuan yang masih asik bercanda
Karna kesal aku meminta alamat tempat tersebut hingga tak lama sebuah panggilan masuk, dengan sedikit menjauh dari mereka aku mengangkat panggilan tersebut dan semakin kesal saat mengetahui mereka akan segera pergi dari sana
"kalo sampe lo nyakitin Alleta gue orang pertama yang kirim lo ke alam baka sialan" aku berlari keluar kantin dan menuju tempat parkiran
Dengan berharap semua itu bohong apalagi saat mengetahui jika Alleta adik kecil kesayangan ku sudah mencintai nya dengan begitu hebat dan ia malah berbuat seperti sekarang akan ku pastikan ia tidak akan bisa menemui Alleta lagi, tidak ada kesempatan kedua dalam jika ia sudah berbuat seperti itu maka kemungkinan hal itu akan kembali terulang bukan?
"Arfadhia Riyu Kinza Alhanan" teriak ku saat tiba di sebuah mall mewah
Tanpa ba bi bu aku langsung melayangkan pukulan kearah nya membuat ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung kebelakang, sedangkan wanita yang berpakaian kurang bahan itu pun membantu pak Arka berdiri.
"cihh" aku mendecih menatap dua orang di hadapan ku
"apa yang kamu lakukan bocah sialan" amuk wanita itu berjalan kearah ku
Dengan kesal aku mencekal lengan berisi milik wanita itu dengan keras membuat nya meringis dan berhasil mendapat perhatian pak Arka, dengan sorot mata menajam ia berjalan kearah kami yang membuat ku semakin muak.
"lepaskan dia Gio"
"dimana sopan santun mu"
"jangan berbuat kasar kepada seorang wanita apalagi dia lebih tua dari kamu"
Aku menghempas lengan itu dan berjalan mendekat kearah nya, lantas apa yang ia lakukan? Menyakiti Alleta secara diam-diam? Apa itu tidakan yang baik?
"cihh persetanan dengan sopan santun"
"sembunyiin jalang lo dari peradaban dunia atau gue yang bakal buat dia ngerasain neraka di dunia" saat hendak pergi berlalu ucapan nya membuat ku semakin murka
"jaga ucapan mu, dia tidak seperti apa yang kamu ucap kan"
Karna enggan jika harus berdebat dengan nya terlalu lama apalagi aku baru ingat jika tadi belum membayar makanan ku di kantin, sialan jika bukan karna dia yang mengganggu acara makan damai ku mungkin sekarang sedang bercanda ria dengan Nara dan yang lain nya.
"harus nya lo gak usah selamat dari kecelakaan beberapa hari lalu, dan ya jangan berharap lo bisa ketemu Alleta lagi setelah ini"
"udah gue peringatin lo dari dulu bahkan sebelum lo nikah sama Alleta, tapi lo anggap ucapan gue bercanda"
Aku melempar sebuah map yang membuat pak Arka bingung, setelah pak Arka membuka map yang aku lempar tadi terdengar ia terus memanggil nama ku dari arah belakang, enggan jika harus melihat wajah memelas yang sangat menjijikan itu di hadapan ku.
"maaf Alleta, tapi aku harus nyembunyiin kamu untuk beberapa waktu hingga membuat orang itu jera" ucap ku melihat puluhan panggilan dari Alleta
Aku kembali ke kelas karna jam istirahat sudah berakhir dan saat di perjalanan sempat ku menoleh kearah berlawanan terlihat seorang pria tengah berjalan cepat,
"sialan" aku berucap sembari merogoh benda pipih berwarna hitam di saku celana ku
"halangi ia hingga jam pulang bagaimana pun cara" ucap ku mematikan sambungan telpon sepihak tanpa menunggu jawaban
Waktu pulang masih tersisa sekitar 3 jam lebih sedangkan ia harus segera menyusun rencana untuk menyembunyikan Alleta secepat nya, bagaimana pun pak Arka tidak boleh bertemu dengan cepat apalagi tanpa penyesalan yang mendalam.
Aku sendiri yang akan memastikan kau bersimpuh di depan lutut ku untuk meminta Alleta kembali, janhan berharap semua tentang mu akan Alletaningat setelah nya, aku berdialog sendiri sembari menyaksikan teman-teman ku sedang mengganggu pak Arka
Pov Gio end
KAMU SEDANG MEMBACA
ALLETA ALVENA
Teen FictionKegabutan diwaktu libur semester "she is mine and she is my little wife" "gak masalah kamu gak mau balikan sama aku, tapi biarin aku jadi singa buat lindungin kamu" "gue gak butuh singa,karna gue bisa jadi landak tanpa bantuan lo" "he's mine bitch"
