38. the half of her is gone

862 21 16
                                        

-Rahades-

38. the half of her is gone

Dengan langkah kaki yang berat Sherly turun dari mobil menatap nanar bendera kuning di depan rumah kesayangannya. Rumah yang selalu membuatnya nyaman saat tak ada tempat untuk ia pulang kini dipenuhi banyak sekali orang berpakaian hitam. Ambulan baru saja melaju saat gadis itu berjalan memasuki rumahnya menatap satu per satu orang yang tak berani mendekati gadis itu. Sudah ramai teman-teman sekolahnya berkumpul, bahkan anak-anak Skullbuldog menunduk saat melihat ke arah Sherly. Mereka semua hanya turut berduka dengan diam. Bahkan kata-kata tak mengenakkan terdengar di telinga Sherly.

"Kasihan ya, Bundanya pergi karena melahirkan sekarang satu-satunya keluarga yang ada meninggalkan dia sendiri." Itulah bisikan kecil yang menyapa telinga gadis ringkuh itu.

Diana baru saja keluar langsung berlari memeluk menantu kesayangannya sambil terus mengeluarkan air mata. Ia meminta maaf terus menerus walaupun gadis itu hanya membeku menatap kosong ke pintu rumahnya. 

Ia melepaskan pelukan Diana tanpa melirik ke arah mama mertuanya itu, berjalan melewati Ares dengan tatapan tak bisa di artikan. Ares yang berdiri disana hanya berucap dengan bibirnya jelas 'Maafin Papa.' katanya.

Gadis itu melihat dua buah peti putih dengan bunga yang menghiasi peti di atasnya. Bersih dan rapi tapi menyayat, mengingat peti  itu berisi kedua orang yang tak ia bayangkan ada disana. Sherly memegang peti itu dengan tangan yang bergetar tak karuan. Ia tidak kuasa menahan air matanya, menangis dengan jeritan yang bahkan orang disekitarnya mampu merasakan kesakitan yang gadis itu terima.

Banyak yang ikut menangis, bahkan Beby yang melihat itu hanya bisa memeluk sahabat baiknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sakit, mereka semua merasakan sakit yang tak terhingga mengingat bagaimana gadis itu menahannya sendirian.

Rahades yang berdiri di samping Ares sudah beberapa kali mengelap air matanya. Ares yang melihatnya merengkuh tubuh anak semata wayangnya itu untuk menenangkannya. 

"Maafin Papa, nak. Papa ngga bermaksut demikian." lirih Ares pelan namun di dengar oleh Rahades. 

Laki-laki yang masih mengenakan seragamnya itu melepas pelukannya dan menatap sang ayah cukup lama hingga keduanya terkejut saat Beby berteriak. Rahades langsung berlari saat ia melihat Sherly tergeletak tak berdaya di samping peti putih milik almarhum sang ayah. Gadis itu pingsan.

*****

"Sher ayo bangun, gue disini." Ucap Rahades berbisik, bersimpuh di samping kasur di kamar Sherly. Waktu menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh malam namun Sherly tak kunjung bangun. Rahades hanya bisa menngecup punggung tangan Sherly sesekali sambil mengusap kening Sherly yang berkeringat. 

"Des." Panggilan Virgo membuyarkan lamunannya.

Laki-laki itu berdiri saat Virgo memasuki kamar. "Lo kayanya harus turun ke bawah."

Rahades mengerutkan keningnya bingung, namun ia menoleh ke arah Sherly sekilas. 

"Biar gue panggil Beby, untuk jagain Sherly." Hades akhirnya menurut. 

Mereka berdua berjalan keluar rumah melewati garasi karena beberapa pelayat masih di berada di ruang tamu. 

Tepat saat melihat semua temannya berdiri cukup ramai di pekarangan mengundang pertanyaan di diri Hades. Laki-laki itu melewati beberapa orang dan mendapati Reginal yang berdiri lengkap dengan kemeja hitam dan celana hitam panjang melekat di tubuhnya. Rahades mengepalkan jemarinya saat disamping Regi terdapat Aron yang kurang lebih berpakaian sama. Di belakang mereka terdapat beberapa anggota Revil yang pasti ia kenal. Rahades mencoba menenangkan dirinya mengingat dimana ia berada. 

RAHADESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang