55. hati yang pilu

489 4 2
                                        

-Rahades-

"Nyatanya memiliki cinta untuk seseorang dengan merasakan ketenangan saat bersama seseorang terasa menyakitkan saat tidak menemukannya di satu orang yang sama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nyatanya memiliki cinta untuk seseorang dengan merasakan ketenangan saat bersama seseorang terasa menyakitkan saat tidak menemukannya di satu orang yang sama."

-Rahades Gema Lengkara

55. Hati yang pilu

"Rahades?" Suara dari pintu menarik perhatian empat orang yang berada di ruang kantor Ares.

Sherly menengok kebelakang, terkejut dengan sosok yang berdiri di ambang pintu membawa amplop di tangannya. "Kak Raksa?" Laki-laki itu diam, ragu untuk mempersilahkan dirinya untuk maju.

Tanpa aba-aba Diandra melewati tempat Sherly berdiri. Dengan amarah yang tersisa ia menampar pipi kanan Raksa hingga laki-laki itu terkejut. Ia masih menunduk tatkala semua yang ada di sana kaget dengan apa yang dilakukan Diandra.

"MA!" Teriakan Sherly menahan tangan Diandra untuk tamparan yang kedua kalinya. Sherly langsung berdiri di hadapan Raksa melindungi laki-laki itu dari Diandra.

"Minggir." Suara Diandra terdengar cetus.

Sherly menggeleng kuat. "Mama harus tenang dulu!" Ucapnya tertahan. Ia bingung dan ketakutan setengah mati. Melihat dua laki-laki yang berdiri diam, keduanya menatap Diandra dan Sherly tanpa melakukan apapun. Terlihat disana Ares mengusap wajahnya kasar.

"Kak Raksa nggak bersalah disini. Mama harus sadar kebenarannya, Ma."

"Nggak bersalah kata kamu! Puluhan tahun aku diam dengan semua kelakuan busuk Papa kamu sekarang kamu bilang aku harus tenang? Anak haram itu alasan dari semua kekacauan ini!" Diandra menggenggam erat kedua lengan Sherly. Gadis itu merintih sakit.

"Mama pikir yang anak haram itu cuman Raksa. Anak mama sendiri juga hasil dari kesalahan Mama." Suara berat itu terdengar pilu. Tersirat rasa sakit di dalamnya.

Entah mengapa berat hatinya dan memilih diam tak kuasa melampiaskan amarahnya. Untuk kali pertama, ia sadar semua amarah yang ia keluarkan selama hidupnya menyakiti seseorang yang ada dalam hidupnya, Raksa dan Istrinya. Kedua orang inilah yang setia menunggunya, bahkan dengan semua rasa sakit yang ia berikan ia menyadari kalau keduanya hadir memilih bersamanya dengan menanggung rasa sakit darinya. Ia menganggap Raksa sebagai tempat ia melampiaskan amarahnya tanpa tau bagaimana perasaan Raksa. Ia tutup mata saat anggapan semua orang tentang Raksa. Pelayannya.

Diandra menutup wajahnya, tertampar oleh ucapan putranya. Bersimpuh tak kuat menahan rasa malu di hadapan anak-anaknya. Raksa yang tertunduk akhirnya menatap Rahades. Keduanya beradu tatap seakan merasakan rasa sakit yang sama yang keduanya miliki.

Hades melihat sang Papa. "Papa senang kan sekarang, Papa udah benar-benar hancurin keluarga Papa sendiri." Tatapan Rahades terlihat sangat membenci Ares.

Dari semua ucapan yang mengalir sedari tadi benar-benar menyadarkan Raksa kalau kebenaran yang selama ini sempurna ia tutupi telah diketahui Rahades. Ia ingin sekali bersuara, namun ia merasa semua yang terjadi adalah karena kehadirannya. Lidahnya tercekat. Keluarga sahabatnya hancur karena salahnya.

RAHADESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang