47. Sungguh Berubah

835 18 5
                                        

-Rahades-

-Rahades-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

47. Sungguh berubah

"Kamu beneran nggak bohongin aku kan, Sayang? Kamu hamil anak aku," Rahades masih setia memaku di tempatnya menatap Sherly dan Raksa bergantian. Wajahnya ingin sekali menampilkan senyuman kalau-kalau jawaban Sherly sesuai dugaannya. Tapi kalau tidak, ia pikir mungkin tidak ada salahnya memukuli Raksa, lagi.

"Kalau kamu nggak percaya silahkan, aku nggak perduli dengan tanggapan kamu yang nggak percaya sama istri kamu sendiri. Urusin aja hidup kamu sendiri mulai sekarang, ini anak aku!" Sherly menaikkan nada suaranya tidak suka menatap wajah cengo Rahades.

Rahades menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak. Kamu harus tarik ucapan kamu!"

"Nggak akan. Aku nggak mau anak aku di besarkan dengan sosok gila kaya kamu, Mas! Dia anak aku."

"Anak kita!" bantah Rahades.

"Anak ak-" ucapan Sherly tertahan saat matanya bertemu dengan mata Rahades. Laki-laki itu ternyata menampilkan senyumannya. Wajahnya tanpa di sangka-sangka, itu meneduhkan bagi Sherly. Mata Rahades yang berkaca-kaca, keringatnya yang membuatnya terlihat letih dan rambutnya yang berantakan selalu menarik di mata Sherly.

"Kamu percaya?" tanya Sherly.

Rahades menganggukkan kepalanya senang. "Anak kita kan, Sher." ucap Rahades mendekatkan tangannya di perut Sherly. Tangannya yang ragu bergetar tidak berani meraih tubuh Sherly. Saat ini ia benar-benar pesimis bahkan dengan instingnya sendiri. Untuk pertama dalam hidupnya. Ia merasa takut karena kehadiran seseorang. Seseorang yang bahkan belum ia temui. Entah apa, tapi perasaannya campur aduk mengingat ada manusia kecil yang kehadirannya tidak ia sangka sebelumnya.

Sherly meraih tangan Rahades untuk membantunya meraih perutnya. Mengusapnya lembut.

"Perut kamu," Senyum Rahades terbit dengan ragu. Ia malu namun di dalam hatinya ia merasa sangat bahagia.

Rahades menatap Sherly bergantian dengan perut gadis itu. Ia bahkan tanpa ragu menampilkan senyumnya kepada Raksa yang berdiri menatap keduanya dengan tatapan lembut. "Sa, ini beneran anak gue."

Rakasa mengangguk dan tertawa kecil. "Iya, anak lo." ucapnya singkat.

"Kenapa kamu bisa tuduh Kak Raksa, Mas? Kamu bahkan hampir bikin Raksa sakit, lagi. Apa kamu nggak puas selalu pukulin Kak Raksa?" Sherly membuat Rahades menekuk bibirnya.

"Kamu nggak akan percaya kalau aku bilang, Regi yang kasih tau katanya ini anak Raksa. Jadi, aku langsung mau cari Raksa buat tanya hal itu."

"Itu bukan tanya, Mas. Itu namanya pemaksaan." Sherly mencoba meraih tangan Rahades. "Kamu sendiri yang bilang, jangan percaya sama Kak Regi? Tapi kenapa kamu sendiri malah percaya dia daripada perkataan Kak Raksa."

"Maaf.." ucap Rahades pelan.

"Minta maaf ke Kak Raksa!" suruh Sherly tegas.

"Gue nggak butuh. Gue balik dulu!" Raksa ingin melangkahkan kakinya meninggalkan keduanya.

RAHADESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang