64. Tuhan tolong dengar doaku

458 11 5
                                        

-Rahades-

Bagaimana pendapat kalian sama chapter kemarin? Kalau penulis kok gelisah banget ya, ga tau kenapa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagaimana pendapat kalian sama chapter kemarin? Kalau penulis kok gelisah banget ya, ga tau kenapa.

Jadinya aku tulis chapter ini buat mengobati kegelisahanku ini, semoga kalian suka~

Don't forget to vote and comment baik-baik. Kalau nggak, aku ngambek nieh, ntar ngga aku kasih ending😔

Nikmati ceritanyaa..

___

"Laut menjadi temanmu sekarang, lalu dimana aku harus mencari sahabatku saat aku butuh kamu mendengarkan ceritaku?"
-Sherly Ghantari


63. Tuhan tolong dengar doaku

Apakah benar yang gadis itu lakukan sekarang? Ia terus menerus bertanya pada lubuk hatinya. Gugup menyelimuti saat ia berdiri di samping pembatas jalan yang rusak tertutupi oleh beberapa garis polisi. Pembatas yang menghentikan Sherly dan Rahades untuk melangkah lebih jauh.

"Disini tempat Kak Raksa jatuh." ucap Sherly tenang.

Langkah Rahades sangat berat saat ia memaksakan diri untuk mendekat pada Sherly. Laki-laki itu menatap laut yang tengah memantulkan cahaya bulan pada air tenangnya. Sayangnya, air tenang itu satu-satunya saksi yang melihat apakah Raksa merasakan sakit kala itu, ataukah malah menemani laki-laki itu saat ia menutup mata untuk yang terakhir kalinya.

Rahades terhuyung. Tangannya bertumpu pada pembatas jalan untuk menjaga dirinya agar tetap sadar. Ia mengusap wajahnya sendiri tidak percaya bahwa sahabatnya sudah tiada.

Disana Sherly mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak sanggup menatap Rahades yang hancur seperti saat ini.

Rahades berbalik menatap Sherly tak lama setelahnya. "Dia pasti kesakitan kan, Sher?" suaranya bergetar, terasa perih terdengar di telinga Sherly.

"Enggak. Kak Raksa yang aku kenal, itu kuat. Buang jauh-jauh pikiran kamu, karena aku nggak sanggup dengar hal itu." ucapan Sherly tegas. Gadis itu berusaha kuat karena ada hal yang ingin ia sampaikan yang lebih membutuhkan ketegaran suaminya.

Rahades meraih satu genggaman tangan Sherly yang berada di sampingnya. Pasangan itu diam sejenak, menatap satu sama lain dengan angin yang menemani keberadaan mereka.

"Ada yang mau aku kasih tau ke Mas. Tapi, aku minta kamu untuk janji satu hal ke aku," tutur gadis itu was-was.

Rahades yang mendapati Sherly gelisah menangkup kedua pipi gadis itu. "Kamu sakit?" tanya Rahades khawatir.

Sherly menggeleng pelan. "Mas janji ke aku untuk nggak kalang kabut. Aku nggak mau Mas bertindak tanpa berpikir sama sekali." ancam Sherly. Ia sungguh-sungguh saat mengatakan hal itu.

RAHADESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang