61. Bawa dia kembali

545 13 4
                                        

"Gue menyesal kenapa nggak mendengarkan ucapan Virgo, sebelum gue kehilangan orang yang paling gue percaya di dunia ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue menyesal kenapa nggak mendengarkan ucapan Virgo, sebelum gue kehilangan orang yang paling gue percaya di dunia ini. Lo nggak pantas punya saudara seperti gue, Raksa. Lo pasti lebih bahagia disana."

-Rahades Gema Lengkara

61. Bawa dia kembali

Penyesalan selalu datang setelah seseorang melakukan kesalahan. Menyepelekan waktu yang tuhan berikan hanya karena menganggap masih ada hari esok untuk meminta maaf. Nyatanya, tak semua orang memiliki waktu yang cukup untuk mendengarkan permintaan maaf itu. Bukan karena ia tidak pantas menerima, melainkan si peminta.

Sherly yang melihat sebuah kantong jenazah diangkat dari bawah tebing langsung terduduk lemas. Tubuhnya bergetar tak kuasa menahan beban berat menerima bahwa disana ada tubuh Raksa. Seorang sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Untuk kesekian kalinya, ia kehilangan sosok penting dalam hidupnya.

"Kak, nggak mungkin kan, itu, Kak Raksa?" Suaranya bergetar kata-katanya terbata. Tangisnya pecah sembari menarik ujung baju Virgo yang terduduk disampingnya.

Virgo hanya diam dengan matanya yang masih fokus melihat kantong jenazah itu dimasukkan ke ambulans. Sedang Ardan dan Oscar sudah mendekat ke samping jenazah untuk dimintai keterangan.

Tak banyak orang berkerumun, tempat terpencil itu sangat gelap dengan hanya sirine mobil polisi yang suaranya menggema disana. Menutupi isakan keras Sherly disamping mobil yang membawa mereka berempat ke tempat kejadian.

"Kak, kak Raksa, bagaimana mungkin dia jatuh dari motor kayak gini!" isak Sherly. Gadis itu masih tak percaya. "Nggak mungkin itu Kak Raksa! KAK! ITU BUKAN RAKSA, KAN!" Sherly berteriak nanar.

"Sher, lo yang tenang ya," tutur Virgo hati-hati. Laki-laki itu merengkuh tubuh Sherly dalam pelukannya. Laki-laki itu juga ikut merasakan kehilangan.

Waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi saat ambulans membawa pergi jenazah Raksa untuk di autopsi satu jam yang lalu. Namun keempat orang itu masih setia berdiri di balik tempat Raksa menghembuskan napas terakhirnya.

Ardan yang mengidentifikasi jasad yang dibawa apakah benar milik Raksa sedari tadi hanya diam menatap ke arah laut. Hatinya tak bisa menjawab berbagai pertanyaan Sherly hingga gadis itu hanya terduduk diam dengan Oscar di pinggir jalan. Hingga Virgo mendekat ke arahnya dan keduanya menatap pemandangan laut yang masih gelap.

"Kayanya lo harus kasih ini ke Rahades," ucap Ardan menyodorkan secarik kertas berisi foto empat orang laki-laki. "Itu gue ambil dari dompet Raksa." ucapnya.

Virgo mengambil kertas itu dan menatap empat wajah yang berada di dalamnya. Masih jelas ingatannya mengenai persahabatan mereka dulu.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RAHADESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang