Kisah Rahades Gema Lengkara
"Pertahananku hancur karena senyumanmu."
Rahades Gema Lengkara. Sosok otoriter di SMA Chircelion dan ketua dari Geng Skull Bulldog yang galak, kejam, dingin, egois, sombong bahkan semena-mena. Selain memiliki jabatan seor...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ati-ati nangis bacanya😉
Salam hangat untuk kalian yang menunggu rahades, dari aku Prettyshyco.
Dengan segenap hati terimakasih karena menunggu, dan selamat menyelam dalam cerita Rahades dan Sherly.✨🌞
Dari ketulusan penulis, semoga kalian berkenan untuk vote dan comment perasaan kalian setelah membaca.
___
"Kenapa saat kebenaran terungkap, sosok yang peduli padaku kau bawa pergi. Tuhan, setidakpantas itukah aku untuk bahagia?"
-Sherly Ghantari
62. Ketulusan tak bisa mengembalikanmu
Sebuah peti putih di dorong ke ruang jenazah oleh dua orang laki-laki. Seperti disadarkan panggilan dari perawat menghentikan detak jantung Rahades yang baru sampai bersama Sherly di rumah sakit.
"Maaf sebelumnya, apakah ada keluarga dari saudara Raksa Adyaksa?" tanya perawat itu.
Seperti terpaku, ia tidak dappat memegang kendali tubuhnya. Matanya masih tertuju pada peti putih tak jauh darinya. Apakah benar Raksa disana? tuturnya menyadarkan kesadarannya.
"Saya, ... saya saudara dari Raksa." jawabnya terbata. Matanya mengerjab berkali-kali, mencoba untuk tak menjatuhkan airnya.
"Saudara Raksa diperbolehkan di bawa ke rumah, besok, sore hari. Mohon untuk di urus administrasinya, terimakasih." penjelasan dari laki-laki muda di hadapannya dijawab anggukan oleh Rahades.
Saat sebuah pintu besi menutupi pandangannya melihat ruangan di depannya, ucapan Virgo menyadarkan Rahades.
"Lo nggak pantas menyebut Raksa sebagai saudara."
Rahades tak mampu menyanggah ucapan Virgo yang menatapnya dengan tak suka. Melipat tangan bersandar di salah satu tiang.
Ia mengedarkan penglihatannya yang menyadari kalau disana Ardan dan Oscar juga kecewa padanya. Menunduk saat tatapan mereka bertemu. Apalagi Sherly yang datang bersamanya memilih duduk di kursi panjang bersama dua sahabatnya. Tak sudi menatap wajah laki-laki itu.
Kakinya ia kuatkan untuk pergi. Berjalan menjauh, hanya berjalan dan terus berjalan untuk mencari tempat dirinya bisa melepaskan beban yang ada dalam hatinya. Sebejat apapun dirinya, ia juga ikut kehilangan saudaranya.
Jatuh, lorong sepi itu menyaksikan bahwa ia juga tak bisa menampung derita kehilangan sosok Raksa. Seburuk apapun laki-laki itu, sudah jelas ialah yang paling kehilangan Raksa saat ini. Seumur hidupnya ia habiskan dengan Raksa.
Ketegarannya runtuh, egonya yang tinggi entah kemana. Ia benar-benar hancur sekarang.
Lututnya menyentuh dinginnya lantai rumah sakit. Tangannya mengepal, digunakannya memukul pelipisnya sendiri. Dan kepalanya tertunduk, seperti keangkuhannya yang sudah roboh sedari ia menatap peti putih yang menyatakan ketiadaan Raksa di dunia.