Kisah Rahades Gema Lengkara
"Pertahananku hancur karena senyumanmu."
Rahades Gema Lengkara. Sosok otoriter di SMA Chircelion dan ketua dari Geng Skull Bulldog yang galak, kejam, dingin, egois, sombong bahkan semena-mena. Selain memiliki jabatan seor...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kehadiran Rahades bukanlah hal yang gue sesali dalam kehidupan ini, melainkan salah satu narasi yang tuhan persiapkan untuk menyadarkan artinya saudara dan persahabatan. Sampai bertemu dilain waktu Hades."
-Raksa Adyaksa
60. Bawa dia kembali
Om Ares
Bisa tolong luangkan waktu untuk saya?
Maaf tidak bisa, saya ada urusan
Om Ares
Saya bersama ibumu, hanya sebentar nak
Sudah saya peringatkan untuk tidak menemui ibu saya lagi, apa ucapan saya belum jelas
Om Ares
Hanya sebentar Raksa dan saya nggak akan mengganggu kamu dan ibumu lagi
Untuk waktu yang cukup lama, Raksa menimang pilihannya. Ia bingung untuk pergi menemui Reginal atau memilih bertemu Ares. Sampai akhirnya ia menanyakan tempat dimana ayah kandungnya meminta mereka bertemu.
Sudah cukup lama motor Raksa melaju dengan kecepatan penuh, ia tak memiliki kecurigaan sedikitpun dengan alamat yang dikirimkan oleh Ares. Cukup jauh, hingga ia dapat menikmati pemandangan laut lepas dari balik helm hitamnya. Indah, batinnya. Kosongnya jalan satu arah dipinggir jurang itu keindahannya tak tertutupi langit gelap. Satu demi satu lampu temaram yang memberinya cahaya menemani perjalanannya. Hingga ia mengurangi kecepatannya saat menemui mobil yang ia kenal di pinggir tebing.
"Apa yang mau anda sampaikan?" tanya laki-laki itu setelah turun dari motor.
Ares mendekat ke arah Raksa menatapnya gusar. Ia masih menahan dirinya untuk mengatakan sesuatu. Melihat Raksa yang datar seperti biasa membuatnya bertanya-tanya, mengapa laki-laki muda itu tidak marah padanya.
"Kalau tidak ada saya pergi," Raksa berbalik.
"Maafin ayah, ayah tau ayah banyak salah sama kamu dan ibumu." ucapnya pelan.
Raksa berbalik menatap laki-laki dewasa yang mengenakan pakaian rapi dihadapannya. Memandangnya kebingungan. Ia mencoba menetralkan raut wajahnya. "Saya tidak pernah membutuhkan permintaan maaf, Om. Dan, saya minta satu hal, jangan bawa-bawa nama ibu setiap kali anda mencari saya." ungkapnya tegas. Wajah tampan Raksa sangat menawan walaupun dalam gelap sekalipun. Rahangnya yang tegas dengan kulitnya yang putih, sangat indah untuk terus dipandang.
"Raksa, Ayah selalu mencintai ibumu, nak. Bagaimana bisa ayah menjauh dari ibumu,"
"Anda tidak seharusnya mengatakan hal itu, ada sosok perempuan yang setiap harinya mempercayai anda tapi anda malah melukai hatinya."