Kisah Rahades Gema Lengkara
"Pertahananku hancur karena senyumanmu."
Rahades Gema Lengkara. Sosok otoriter di SMA Chircelion dan ketua dari Geng Skull Bulldog yang galak, kejam, dingin, egois, sombong bahkan semena-mena. Selain memiliki jabatan seor...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sampai akhir.."
-Sherly Ghantari
56. Hari Terakhir Sekolah
Mata Rahades mengerjab berkali-kali saat cahaya menyapa penglihatannya sesaat setelah ia terbangun. Ruangan berwarna merah muda membuatnya bangun dan duduk. Ia sadar bahwa dirinya sekarang berada di kamar Alaya. Hatinya berat untuk mengedarkan pandangannya, tatapannya lurus melihat dirinya sendiri pada kaca tidak jauh darinya. Ia tak memakai sehelai kainpun pada tubuhnya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi kemarin malam tapi nihil. Ia hanya ingat kalau dia duduk di ruang tamu bersama Alaya.
"Kamu udah bangun, Des?" suara lembut yang terdengar dari sisi kirinya membuat hatinya seakan teriris. Ia membuat kesalahan lagi, batinnya. Tanpa ia tau sebenarnya gadis itu sudah memperhatikannya bahkan sebelum ia terbangun.
"Alaya," panggilnya pelan. Ia melihat gadis itu dalam keadaan yang sama dengannya. Telanjang. Hatinya sudah berdetak tak karuan sedari tadi, bukan karena rasa senang tapi karena ia merutuki kesalahannya sendiri. "Gue nggak ngelakuin apapun ke lo kan?" Suaranya bergetar.
"Nggak, gue nggak inget apa-apa." Hades diam. "Gue nggak mungkin apa-apain lo, nggak mungkin!" ia meyakinkan dirinya sendiri. Ingatannya memang samar, tetapi entah kenapa ia percaya bahwa ia tidak melakukan apapun kepada gadis disampingnya.
"Des, semalam kamu nggak inget kalau kamu cerita soal Raksa? Kamu marah kan sama dia, Sherly nggak mau dengerin kamu karena cewek itu lebih percaya sama Raksa dari pada kamu."
Rahades diam memegang kepalanya mencoba mengingat semua yang terjadi tadi malam dan ia tak menggubris Alaya.
Alaya kelabakan. "Kamu benar-benar nggak ingat kalau kamu minta hal itu ke aku? Kamu lakuin hal kayak gini dan kamu mau lari gitu aja? Maksud kamu apa?!" Alaya mulai histeris.
Rahades menoleh ke arahnya. Ia mencoba merasionalkan pikirannya sendiri. Ia memang sadar tapi kenapa ia bisa sampai nggak ingat tentang apa-apa? Alasan apa yang membuatnya tiba-tiba tak memiliki memori apapun dari semalam.
Alaya menangis dan terisak cukup keras membuat lamunan Rahades buyar. "Kamu nggak ingat bahkan minta cium aku dan bilang kalau ciuman aku jauh dari ciuman cewek belagu itu! Sadar Hades!" geramnya. Meremas kuat-kuat selimut yang menutupi tubuhnya.
Rahades menatap Alaya tajam. Tangannya terulur mencengkeram leher Alaya. "Seenggak sadar apapun gue, gue nggak mungkin ngomong hal jelek tentang Sherly. Lo bohong sama gue kan?!" Rahades sangat tidak suka dengan apa yang di ucapkan Alaya.
Suara Alaya tercekat. "Hades, bu-bukan gitu. Ka-mu nggak," Rahades melepas genggamannya hingga memperlihatkan leher alaya yang memerah.
Uhuk.. gadis itu terus batuk namun Rahades tidak perduli.