Kisah Rahades Gema Lengkara
"Pertahananku hancur karena senyumanmu."
Rahades Gema Lengkara. Sosok otoriter di SMA Chircelion dan ketua dari Geng Skull Bulldog yang galak, kejam, dingin, egois, sombong bahkan semena-mena. Selain memiliki jabatan seor...
Kalau boleh mengingatkan, jika ada plagiarisme dari segi apapun terhadap cerita Rahades dan kalian menemukan hal itu. Tolong kasih tau penulis ya! Karena aku sama sekali tidak akan mentolerir hal tersebut.
Setelah ending cerita ini, penulis akan move ke Sang Braga. Cerita sebelah yang nggak kalah seru dan sedih wkwk. Hope u wait for it! Aku usahakan untuk stock chapter supaya bisa up setiap harii!!
Enjoy baca cerita ini💛🌞 Don't forget tell me about your reaction!
___
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sahabat sejati adalah seseorang yang meskipun temannya melakukan kesalahan, tak akan segan dia melayangkan teguran."
-Ardan Gunawan
64. Teringat tawa kala itu
Sherly sudah siap dengan dress hitam berlengan panjangnya saat sebuah notifikasi dari handphone yang berada di atas kasur menarik perhatiannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya setelah membaca pesan. Menahan diri untuk tak menangis lagi. Terlalu banyak air mata darinya membuat gadis itu berjanji untuk melepas sosok Raksa pada hari pemakamannya tanpa tangis sedikitpun. Ia sudah bertekad.
Lamunannya teralihkan dengan panggilan Rahades dari balik pintu kamarnya. Gadis itu menoleh saat Rahades mengetuk pintu dan membuka pintu tidak lama setelahnya. Tatapannya berubah datar saat melihat suaminya sendiri. Tidak bisa ia pungkiri, gadis itu pasti sakit hati melihat suaminya setelah semua kebenaran yang datang secara tiba-tiba memberitahunya.
"Kamu sudah siap?" tanya Rahades membuyarkan lamunannya.
Rahades tak mendapatkan balasan kecuali Sherly yang diam menatapnya, sehingga laki-laki itu mendekat. "Ada apa?" tanya Rahades lirih.
"Reginal sudah di bawa ke kantor polisi." ungkap Sherly dengan pundak yang bergetar pelan. Tak terlihat, tapi tubuhnya merasakan kemarahannya yang tertahan.
Setelah mendengar hal itu jantung Rahades ikut berpacu. Ia tau. Hari ini juga sang ayah akan di tangkap. "Dia pantas untuk di hukum, Sher." ucap Rahades. Perkataannya tulus dari hati.
Sherly mengalihkan pandangannya cepat menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal buruk pada suaminya, ia tau laki-laki itu tidak bersalah. Gadis itu menutupi rasa sakit hatinya teringat wajah Ares pada diri Rahades.
Ayah dan adiknya yang tak bersalah harus kehilangan nyawa mereka oleh mertuanya sendiri. Kenapa? Kenapa tuhan mempersatukan mereka dari awal kalau hubungan ini merenggut segalanya?
Rahades meraih tangan Sherly yang langsung di tepis oleh gadis itu. "Kita pasti di tunggu yang lain, di rumah tante Ratu." katanya menghindar, gadis itu pergi melewati Rahades tanpa menatap mata suaminya sama sekali.