《All we need just heal》
_I.N_
▪︎ Sejak Awal Memang Bukan Pilihan ▪︎
===================================
☘☘☘
Mobil yang dikendarai Bian terparkir asal di lahan parkiran rumah sakit yang kosong. Ia lantas membuka pintu mobil dan menutupnya kencang. Tak lagi ia pikirkan ponselnya yang masih tertinggal di dalam. Ia segera berlari menuju Instalasi Gawat Darurat yang sedari awal menjadi tujuannya. Udara malam terasa dingin dan lembap. Hujan baru saja reda, tetapi lantai halaman rumah sakit masih penuh genangan. Lampu-lampu putih IGD memantul di permukaan air, membuat suasana terlihat terlalu terang untuk malam yang kacau seperti ini.
Langkah Bian hampir terpeleset saat ia berlari masuk melewati pintu kaca otomatis. Begitu berada di dalam, suara-suara rumah sakit langsung menyergapnya, bunyi monitor jantung dari kejauhan, roda troli pasien yang berderit dan percakapan cepat para perawat yang berjalan tergesa di lorong IGD. Bian berhenti di depan meja resepsionis dengan napas terengah. Dadanya naik turun cepat, seolah udara yang ia hirup tidak pernah cukup.
“Pasien kecelakaan mobil,” Bian berujar dengan gemetar dan napas yang bersahutan dengan kata yang ia keluarkan.
“Izin saya konfirmasi dulu ya, Mas. Ini tanda pengenalnya, apa benar?”
Resepsionis itu membuka sebuah laci kecil di meja, lalu mengeluarkan dua kartu tanda pengenal yang terbungkus plastik bening. Ia menggesernya ke arah Bian. Bian mengambilnya dengan tangan gemetar. Matanya langsung menangkap dua nama yang tercetak jelas.
Mahesa.
Dan di kartu kedua—
Andaru.
Jantung Bian seperti berhenti satu detik. Tepat seperti dugaannya. Mahesa pasti pergi menemui Andaru. Ia menatap kedua kartu itu beberapa saat lebih lama dari seharusnya, seolah berharap salah satu nama itu akan berubah jika ia menatapnya cukup lama. Namun tidak. Dua nama itu tetap ada di sana.
Bian menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada sesuatu yang menahan napasnya untuk keluar.
Tangannya bergerak perlahan mengangkat kartu yang bertuliskan nama Mahesa. Plastik bening yang melapisi kartu itu dingin di ujung jarinya. Namun sesuatu membuat gerakan Bian terhenti di tengah jalan.
Ada bercak merah di sana.
Darah.
Bukan sekadar titik kecil, melainkan noda yang telah mengering setengah, menempel pada plastik dan sebagian menutupi foto kecil di kartu itu. Tepat di bagian wajah Mahesa.
Bian membeku.
Dunia di sekelilingnya seperti mengecil menjadi satu titik kecil di tangannya. Suara ranjang yang lewat, bunyi monitor jantung dari ruangan lain, percakapan para perawat, semuanya mendadak terdengar jauh, seperti berasal dari lorong yang sangat panjang.
Matanya terpaku pada foto itu.
Wajah Mahesa yang biasanya cerah kini tertutup garis merah yang tidak seharusnya ada di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Ficção GeralMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
