Kenyataannya tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Semua kisah pasti memiliki luka. Tuhan menciptakannya dengan sebuah senyuman indah dengan lesung pipi di pipi kanannya, tapi semesta justru merenggut senyumannya.
Berpura-pura seakan tidak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Manusia hanya dapat berusaha, selebihnya Tuhan yang menentukan hasilnya."
[ ;ɞ ]
Suara elektrokardiograf mulai menggema di seluruh ruangan, kedua iris hazel itu akhirnya tertutup sempurna. Setelah menunggu hampir setengah jam, nyatanya Alfano tidak ada harapan untuk datang menemani Rachell. Di luar ruang operasi, tiga pasang suami istri telah menunggunya dengan perasaan yang tidak tenang.
Meski mereka terus berusaha meyakinkan pada Rachell jika operasi ini tidak akan gagal, bukan berarti mereka benar-benar meyakininya. Lampu operasi telah dinyalakan, menandakan operasi telah dimulai di dalam sana. Gempita dalam dekapan Pratama menatap gusar lampu operasi yang baru saja menyala tersebut.
Elmira dan Mahendra terus-terusan merapalkan doa untuk Rachell yang sedang berjuang, sementara Heera ia masih sibuk mondar-mandir tidak tenang.
Di sisi lain, para dokter serta perawat tengah berusaha menyelamatkan Rachell.
Iris hazel itu telah tertutup sempurna, pahatan nirmala di paras ayu milik Rachell yang terlelap tampak tenang. Jujur saja saat melihat gadis itu mereka sempat terpesona, sayangnya nasib pilu justru dialami gadis belia yang seharusnya tengah bahagia menikmati masa muda.
Setelah tiga jam berlalu begitu saja dengan tenang dan lancar, sialnya tiba-tiba saja suara nyaring dari EKG membuat semua yang berada di sana tenang. Implan cardioveter-defibrillator berhasil dipasang, sayangnya tubuh Rachell seakan menolak. Mereka membutuhkan tenaga lebih, salah seorang perawat keluar guna menghubungi dokter ahli.
Gempita dan yang lain saat mendengar kabar itu semakin khawatir. Di dalam sana, seorang dokter tampak berusaha mengembalikan detak jantung Rachell yang semakin melemah dan hampir hilang.
“Allahumma inni as alukal luthfa fima jarat bihil maqadir. Rachell kuat, Nak,” lirih Elmira dengan suara yang mulai bergetar.
“Inn syaa Allah, Umi, don’t sweat it,” balas Mahendra memeluk tubuh sang istri.
“Apa Alfano masih belum bisa dihubungi, Yah?” tanya Heera pada Wijaya.
“Kata Hendry pesawat Alfano masih landing sekitar satu jam lagi, Bun.”
“Dia benar-benar sedang ke Eropa saat ini?” Wijaya mengangguk singkat.
“After all, Rachell needs her parents to support her. Seandainya Alfano dan Grazella menurunkan ego mereka sedikit saja, Rachell pasti akan lebih semangat dan yakin untuk menjalani operasi ini,” tandas Heera menatap sendu ruang operasi di mana Rachell berada.
“Rachell itu putri ayah yang kuat. Rachell can do it, bunda also have to believe in Rachell."