Kenyataannya tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Semua kisah pasti memiliki luka. Tuhan menciptakannya dengan sebuah senyuman indah dengan lesung pipi di pipi kanannya, tapi semesta justru merenggut senyumannya.
Berpura-pura seakan tidak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Penyesalan selalu berakhir menjadi trauma bagi setiap penderitanya."
[ ;ɞ ]
Meski jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi cuaca hari ini terlihat begitu mendung dengan cakrawala yang tertutup mega kelabu. Rintik hujan pun perlahan mulai berjatuhan, membuat kedua iris hazel itu kehilangan nayanikanya.
"Yah ... hujan. Kita gak jadi ke kebun binatang dong," lirihnya kecewa.
"Kenapa, Dek?"
"Hujan, kita gak jadi ke kebun binatang lagi. Padahal Opa udah janji kita akan ke kebun binatang sekarang."
"'Kan jarak kebun binatang dari rumah cukup jauh, gimana kalau kita tetap pergi? Pasti pas sampai kebun binatang nanti udah terang. Terus kita bisa main deh sama panda, zebra, jerapah, gajah, dan lainya!"
"Iya juga, ya udah Lesya mau bilang ke Opa dulu."
Gadis bersurai kecokelatan itu berlari dengan langkah kecilnya menghampiri seorang laki-laki paruh baya yang telah berumur lima dekade tersebut. Pria tersebut tersenyum hangat saat melihat cucu kesayangannya tersebut.
"Sini, Sayang," panggilnya menyuruh agar Rachell duduk di pangkuannya.
"Opa kemarin janji lho mau ajak Lesya sama Kak Ana ke kebun binatang," ucap Rachell kecil mengingatkan.
"Di luar hujan, Lesyaqueen. Kita bisa pergi minggu depan," timpal Fano, papanya Rachell.
Rachell kecil mengerucutkan bibirnya beberapa senti. "Tapi 'kan jarak rumah sama kebun binatang cukup jauh. Nanti kita bisa sampai di sana waktu hujannya sudah berhenti," kekeh Rachell kecil merengek.
"Kamu sangat ingin pergi ke kebun binatang?"
"Iya! Opa sama Papa sibuk terus, kalau ditunda-tunda nanti malah gak jadi-jadi."
"Ya sudah, kita bersiap ke kebun binatang," putus Atmaja.
"Di luar hujan cukup lebat, Lesya, berangin juga," peringat Grazella yang memberikan secangkir kopi untuk Fano.
"Opa ... " rengek Rachell membujuk Atmaja.
Atmaja terkekeh gemas, ia mengacak-ngacak surai kecokelatan gadis itu. "Cium Opa dulu."
Dengan cepat Rachell kecil langsung mencium pipi Atmaja. "Kita jadi pergi ke kebun binatang, 'kan?" serunya bersemangat.