3. Ombrophobia

215 22 13
                                    

Happy Reading ✨

"Siapa sangka, luka tidak mengenal seindah apa pun lukisan semesta

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Siapa sangka, luka
tidak mengenal seindah
apa pun lukisan semesta."

[]


Tunggang gunung kali ini cakrawala tampak kelam, anila berembus kencang menerbangkan rambut kecokelatan itu. Bibir pink itu mulai memucat, semua terasa terulang kembali. Lamunannya buyar saat lengan kekar melingkar di bahu. Manik mata sendu itu menatap luka pada laki-laki tampan yang merangkulnya hangat.

"Kita pulang aja, ya?" bujuknya tidak tega saat melihat keadaan gadis itu seperti tak baik-baik saja.

"But I've promised," lirihnya dengan suara yang mulai bergetar.

"Don't forced. Masih ada besok, dari pada lo kenapa-napa," timpal Galang yang duduk di belakangnya.

"Tapi, Lang."

"Hujan kayanya bakal deres banget. Batalin aja mereka pasti ngerti. Lagi pula mereka belum datang, kayanya juga gak bakal datang soalnya hujan," urai Langit.
"Ya udah." Rachell mengangguk lemah.

"Kamu duduk di jok belakang sama Langit."

Tak ada penolakan, gadis itu menurut. Petir mulai saling bersahutan, membuat tubuh mungil itu mulai bergetar. Langit memeluk Rachell erat, menyalurkan kekuatannya agar Rachell tak takut.
Galang memberikan earphonenya kepada Rachell, kemudian ia menyalakan playlist favorit gadis itu. Volume earphone tersebut sengaja dikeraskan agar suara hujan dan petir tidak didengar oleh Rachell, sementara itu Langit terus mendekapnya karena ia bisa merasakan gadis itu benar-benar merasa ketakutan.

"Tenang, Chell. Nothing will happen, kita selalu ada buat lo," bisik Langit yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Rachell.

Fajar yang sedari tadi serius menyetir sesekali melihat ke arah jok belakang. Secepat mungkin ia mengendarai mobilnya agar gadis itu tak terus ketakutan.

"Lang ... I'm fucking scared," lirih Rachell di tengah isaknya.

Jangan lupakan sedari tadi gadis itu menangis di dekapan Langit. Sejak kejadian delapan tahun lalu membuat Rachell mengalami Ombrophia.

Ombrophobia atau biasa dikenal dengan pluviophobia adalah rasa takut akan hujan yang meliputi gangguan kecemasan umum dan biasa terjadi pada anak-anak atau orang dewasa. Istilah ombrophobia sendiri berasal dari bahasa yunani, "ombros" yang berarti badai hujan dan "phobos" yang berarti ketakutan atau kebencian.

Maka dari itu setiap hujan datang apalagi diselingi dengan petir Rachell akan seperti ini. Galang memutuskan untuk pindah ke jok belakang ikut mendekap Rachell.
Dia selalu membenci kondisi Rachell seperti ini, gadis penuh senyum manis itu selalu lemah saat kondisi seperti ini.

Setelah beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah Fajar.
Rachell digendong oleh Langit, sedangkan Galang memayungi gadis itu dengan jaketnya agar dia tak kebasahan. Mereka membawa Rachell ke kamar milik gadis itu. Ya, di rumah Fajar memang ada kamar khusus Rachell karena terkadang Rachell sering menginap di sana.

HipotimiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang