7. Tentang Penyakit Rachell

156 11 1
                                    

Happy Reading ✨

"Nyatanya, pemilik luka paling dalam adalah dia yang memiliki tawa paling keras

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nyatanya, pemilik luka paling dalam adalah dia yang memiliki tawa paling keras."

[]

Baru saja ia menginjakkan kakinya ke lantai marmer rumah megah itu, deretan kalimat yang menusuk hatinya terdengar.

"Dari mana saja kamu. Main terus, saya menyekolahkan kamu mahal-mahal bukan untuk bermain." Rachell menghentikan langkahnya mendengar penuturan dari pria yang tengah duduk di ruang tamu.

"Tadi ada jam tambahan, bulan depan aku akan ikut olimpiade matematika tingkat nasional," terang Rachell.

"Oh baguslah, awas kamu sampai kalah. Saya tidak ingin malu di depan teman-teman saya. Jadilah gadis yang berguna sedikit."

Rachell mendongakkan kepalanya berusaha menahan agar air matanya tak jatuh saat ini. Rasanya begitu sesak, apa dia memang serendah itu? "Pasti."

Rachell meninggalkan pria tersebut. Ia menaiki anak tangga dengan berlari. Mengapa ia harus selemah ini? Sesampainya di dalam kamar, Rachell mengunci kamar bernuansa putih dan rose gold tersebut. Bau parfum stroberi menyeruak di dalam kamar itu.

Tubuh Rachell meluruh di belakang pintu, dadanya terasa sesak. Dia memang gadis bodoh, bahkan sangat bodoh. Kebodohan terbesarnya adalah mengapa ia harus terus berharap meski dia tahu semuanya mustahil membaik. Andai saja detik itu ia tak bertahan mungkin kini jiwanya telah bahagia di langit.

Sore itu auzora tampak kelam, sesekali petir menyambar semakin membuat tubuh mungil itu bergetar. Pikirannya kacau, sekelebat masa lalu mampir seperti film yang terus terulang.

Tangan mungilnya meraba-raba meja, mencari benda berkabel yang dapat sedikit meredakan suara-suara itu. Benda pipih dengan logo apel tergigit bergetar karena genggamannya. Mengapa harus sesulit itu padahal semua sudah lalu?

"Syaa takut, Opa. Semua membuat Syaa pusing," racaunya sambil sesekali menjambak rambut kecokelatan miliknya.

Untuk saat ini saja dia berharap telinganya menuli agar tak dapat mendengar rintik air mata langit yang menyiksanya.
Keadaannya semakin kacau karena hujan turun semakin deras di luar sana. Dengan tertatih ia berjalan ke arah nakas samping tempat tidurnya, mencari benda kecil yang mungkin akan menenangkannya.

Nah dapat! Segera ia membuka tutup botolnya. Mengambil satu butir penenang, rasanya masih tetap sama yang membuatnya mesti meneguk beberapa butir hingga membuatnya terlelap.

Waktu berjalan begitu saja, hingga kini tangisan semesta telah reda, bahkan tak ada lagi. Rachell terbangun dari tidurnya, memegangi kepalanya yang sangat berat dan pusing.

HipotimiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang