Kenyataannya tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Semua kisah pasti memiliki luka. Tuhan menciptakannya dengan sebuah senyuman indah dengan lesung pipi di pipi kanannya, tapi semesta justru merenggut senyumannya.
Berpura-pura seakan tidak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Beberapa orang kerap melupakan tindakan atau ucapan yang tidak disengaja terkadang menyakiti orang lain."
[ ;ɞ ]
Awan-awan tebal menyelimuti cakrawala membuat sang baskara tidak maksimal memberikan sinarnya pada pertiwi. Arloji di tangan Rachell telah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi, tapi Galang masih belum datang menjemputnya. Ia menggerutu pelan saat beberapa detik kemudian akhirnya mobil tesla berwarna putih milik Galang datang.
Galang yang baru saja datang menyengir kuda bergegas membukakan pintu untuk Rachell sebelum gadis itu benar-benar marah kepadanya.
“Lama banget sih,” gerundel Rachell.
Galang memasangkan sabuk pengaman untuk gadis itu sejenak, kemudian ia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Sorry, Chell. I overslept, salahin Langit yang ngajak gue mabar sampai subuh. Paling tuh anak telat juga,” ujar Galang.
Lima belas menit kemudian akhirnya mereka telah sampai di pelataran SMA Pelita Bangsa, tepat dua menit sebelum gerbang ditutup. Salah seorang gadis menatap kesal saat Rachell keluar dari mobil Galang.
Sudah hampir seminggu ini laki-laki itu tidak pernah mengantar jemputnya demi menjemput Rachell. Semenjak gadis pindah ke sekolah mereka, perhatian Galang benar-benar direbut oleh Rachell.
“Gue bakal buat perhitungan kali ini,” lirihnya mengepalkan tangan.
•°• ;ɞ •°•
Bel istirahat telah berbunyi lima menit yang lalu. Kantin tampak sangat ramai hingga melihatnya saja membuat Rachell pusing. Sebenarnya hari ini ia malas ke kantin, tapi Langit memaksa dan membujuknya akan membelikan makanan favorit gadis itu. Saat ini ia tengah duduk di samping Fajar yang fokus pada ponsel.
“Fajar, I need to go to the toilet,” pamit Rachell saat merasa ingin buang air kecil.
Fajar memasukkan ponselnya ke saku. “Aku antar.”
“Gak usah. The toilet is close anyway. Kamu di sini aja tungguin makanan aku biar gak dihabiskan sama Galang,” ujar Rachell kemudian pergi begitu saja.
Sempat ragu membiarkan gadis itu pergi sendiri, tapi akhirnya Fajar membiarkan begitu saja. Gadis berambut kecokelatan itu mendesis kesal saat kamar mandi yang berada di dekat kantin ternyata rusak, jadi ia harus pergi ke kamar mandi lain. Untung saja tidak jauh dari kamar mandi tadi, ada kamar mandi yang bisa digunakan.
Setelah lega mengeluarkan urinya, Rachell terlebih dahulu mengaca untuk merapikan penampilannya. Saat hendak keluar dari kamar mandi tiga gadis menghadangnya. Salah satunya adalah gadis yang lebih pendek lima senti meter dari Rachell.