34. Putus

26 4 0
                                    

Happy reading, Love ✨

"Apa yang dimulai memang harus diakhiri, meski bukan dengan akhir yang indah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa yang dimulai memang harus diakhiri, meski bukan dengan akhir yang indah."

[ ;ɞ ]


Pagi ini sinar baskara lebih awal menyapa bentala. Hiruk pikuk ibu kota tampak padat dengan kehidupan yang terus berputar. Tepat di pukul tujuh pagi sebuah mobil mercedes-AMG GT 53 berwarna putih memasuki pelataran SMA Pelita Bangsa. Mobil itu menjadi sorotan karena keempat remaja yang baru saja keluar dari sana.

Dari pintu pengemudi seorang laki-laki dengan hoodie berwarna biru keluar bersamaan dari pintu sampingnya yaitu seorang casanova Pelita Bangsa. Di lain sisi, dari pintu belakang seorang ketua OSIS SMA Pelita Bangsa turut hadir, uluran tangannya diterima oleh seorang gadis cantik dengan rambut kecokelatan yang keluar setelahnya.

Meski ini bukan pertama kalinya Rachell berangkat bersama ketiga most wanted SMA Pelita Bangsa, namun ini pertama kalinya keempat remaja itu berangkat bersama dengan satu mobil. Semilir anila menerbangkan anak rambut Rachell, ia tersenyum kecil dengan lesung pipi yang tercetak sempurna di pipi kanannya.
Keempat remaja itu berjalan beriringan dengan Rachell yang diapit oleh Fajar dan Galang. Tidak ada yang dapat mengelak dari pesona mereka, apalagi saat melihat Fajar yang begitu lembut dan perhatian pada Rachell.

“So because of Rachell, you couldn't pick me up today?” tuding Kejora yang tiba-tiba saja menghalangi jalan mereka.

“I'm not your driver,” tandas Langit acuh.

“Are you nuts, Chell? Hubungan lo sama Daren lagi renggang lo justru makin menjadi kaya gini,” ujar Ghea yang memang kebetulan datang bersama Kejora.

Rachell tidak menggubris gadis itu, ia tampak acuh dan hanya mengedikkan bahunya memberi respons. Seorang laki-laki jakun datang menghampiri mereka, tampak gurat amarah di wajahnya. Iris hazel itu menatap sendu Daren di balik kaca mata hitamnya.

“Ren, look at your girlfriend. Lo lagi banyak masalah justru dia tambahi beban pikiran lo,” sungut Ghea memanasi.

“Hi, Babe,” sapa Rachell seakan tidak memiliki rasa bersalah.

“Ayo ketemu sepulang sekolah nanti,” pinta Daren.

•°• ;ɞ •°•

Dedaunan yang rimbun bergoyang dengan dersik pawana yang menerbangkan beberapa helai daun jatuh di atas bentala. Suara riuh dari anak-anak yang sedang bermain dan bercanda membuat kehidupan di sana terasa menyala. Iris hazel itu sudah hampir satu jam lamanya melamun, menatap kosong anak-anak yang sedang asyik berlarian.

HipotimiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang