Our Family
Ayah
Bunda
🦊
🐶
🐻
🐰
Sudah hampir seminggu ini Jendra juga Rendra sibuk untuk mempersiapkan seleksi OSIS yang mereka jalani. Disamping itu masing-masing dari mereka memiliki kegiatan lain seperti Jendra yang sibuk dengan latihan basket juga latihan boxing bersama om Johnny dan Rendra dengan klub seninya.
Membuat kedua anak tertua di rumah Adhitama itu selalu pulang terlambat seminggu ini, bahkan terkadang sehabis makan malam keduanya lebih dulu masuk ke kamar untuk belajar dan prepare.
Ternyata pemilihan OSIS di SMP Garuda sangatlah sulit, padahal mereka hanya mendaftar sebagai anggota dan bukan seleksi untuk pemilihan ketua. Tapi OSIS SMP Garuda mengharuskan calon anggotanya untuk membuat visi, misi, dan alasan mereka ingin ikut tergabung dalam OSIS. Mungkin memang terdengar sederhana tetapi mereka harus menjelaskannya di tengah lapangan dan di tonton oleh seluruh murid yang ada.
Hal itu sangat menguras tenaga dan otak bagi keduanya, apalagi bagi Rendra yang cukup pemalu hal itu membuat dia selalu gugup setiap memikirkan deadlinenya. bahkan dirinya hampir ingin menyerah tapi saat melihat Jendra yang begitu serius mempersiapkan semuanya membuat dia memantapkan diri. Toh ini bisa membantu menjadi orang yang lebih baik lagi.
Padahal ini malam minggu, empat saudara itu biasanya menghabiskan malam minggu mereka berkumpul di ruang tamu sambil menonton film atau pergi keluar jalan-jalan. Tapi mengingat kondisi 2 orang lainnya membuat acara mereka dibatalkan, meski di ruang tengah tetap ada Hendra dan Nandra yang menemani ayah main PS.
"Belum tidur kalian?" Suara Ana mengagetkan orang-orang yang ada di ruang tamu.
"Nda jangan tiba-tiba gitu, kaget aku" Ucap Hendra sambil mengelus dada, sedangkan Ana hanya berlalu menuju dapur.
Sebenarnya tak masalah sih hari ini mereka mau tidur jam berapa, toh besok libur juga.
"Jendra sama Rendra belom tidur apa udah tidur?" Tanya Ana pada orang-orang yang ada di ruang tamu.
"Tadi Nandra cek sih masih belum nda, masih sibuk depan komputer masing-masing" Jawab si bungsu
Ana mengangguk dan mengambil nampan dengan 3 buah gelas diatasnya. "Buat siapa nda?" Tanya Jeffri
"Buat bunda, Jendra sama Rendra"
"Buat kita nggak ada?" Tanya Hendra memandang Ana dengan pandangan kecewa dibuat-buat
"Nggak cukup kalian minum cola sebanyak itu?" Hardik Ana, sedangkan yang lain hanya nyengir. Bagaimana tidak diatas meja ruang keluarga ada berkaleng-kaleng bekas cola dan cup coffee yang mereka pesan, ditambah snack yang isi dan bungkusnya sudah kemana-mana.
"Besok pagi, kalo bunda liat meja sama karpet masih berantakan nggak perduli kalian baru tidur berapa jam juga bakal bunda bangunin kalo perlu bunda siram sekalian" Ancam ibu negara membuat ketiga nya merinding lalu menyengir.
Ana pergi menuju kamar kedua anaknya yang lain setelah mengancam suami dan anaknya.
Tok
Tok
Tok
Ana masuk kedalam kamar dan mendapati keduanya yang masih sibuk dengan mata yang menatap layar komputer. Ana dan Jeffri memang berusaha untuk memenuhi semua keperluan anak-anak mereka, seperti memberikan komputer untuk masing-masing, iPod, bahkan kamera untuk Nandra. Alasannya simple karena mereka tak ingin anak-anaknya menjadi terlalu bersemangat untuk setiap benda baru apalagi yang berhubungan dengan teknologi mereka tidak ingin keempatnya terlena dengannya. Kalau mereka sudah tahu duluan maka bisa membuat mereka menjadi biasa saja dan menjadi lebih bijak dalam penggunaannya. Ya, meskipun harus menguras dana yang tak sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Family
FanfictionTak sedarah tapi tumbuh bersama. Tak seibu tapi saling bergantung. Tak seayah tapi saling sayang. Lahir dari rahim yang berbeda tetapi di rawat oleh orang tua yang sama. Mereka ada untuk melengkapi satu sama lain.
