Our Family
Ayah
Bunda
🦊
🐶
🐻
🐰
Hendra sudah berada bis bersama dengan adiknya Nandra. Mereka berdua pulang terlambat karna Hendra harus ekskul futsal dan Nandra yang harus mengikuti ekskul PMR.
Kalo biasanya mereka menghabiskan waktu didalam bis itu dengan saling bercanda atau mengobrol hari ini sangat berbeda keduanya tampak diam, tak saling pandang. Bahkan sampai turun dari bus dan berjalan menuju komplek pun keduanya masih diam.
Alasannya masih sama, karna Bunda masih marah menyebabkan mood keduanya benar-benar hancur hari ini. Hendra yang biasanya semangat waktu futsal malah jadi ogah-ogahan dan bikin teman setimnya kesal apalagi Mahesa dia sudah sangat ingin menendang Hendra kalau saja tak ingat bocah itu merupakan sahabatnya.
Lalu Nandra, yang biasanya ramah hari ini menjadi emosian. Dia yang selalu memperlakukan anak perempuan dengan lembut dan ramah bahkan sampai membentak anggotanya dan berselisih paham dengan kakak kelas membuat Nandra keluar dari lapangan indoor tempat ekskul dilaksanakan lebih dulu daripada yang lain.
Saat memasuki komplek keduanya berpapasan dengan saudaranya yang lain yaitu Jendra yang tengah membonceng Rendra.
"Datang darimana bang?" Tanya Hendra
"Sasana" Jawab Jendra kemudian turun dari sepeda juga Rendra yang turun lebih dulu menghampiri Nandra yang ia lihat masih belum baik-baik saja.
"Nan... " Panggilnya, yang di panggil menoleh sekilas tanpa bertanya balik.
"Nan, mukanya jangan di tekuk gitu nanti kalo Bunnda liat nggak enak"
"Emang Bunda di rumah? Kayaknya sih nggak" Jawabnya sarkas, inilah yang paling nggak disukai dari mereka. Yaitu saat marah, mereka memang jarang marah tapi sekalinya marah itu susah untuk balik normal lagi dan masing-masing dari mereka memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan keadaan itu.
Nandra berjalan lebih dulu meninggalkan tiga orang lainnya, kakinya menendang kerikil dan tanpa terasa ia sudah sampai di depan rumah. Ada rasa ragu saat ia ingin membuka pagar, mobil Bunda dan Ayahnya sudah ada di garasi membuat dia bingung harus bersikap bagaimana
"Masuk ayo" Hendra lebih dulu membuka pintu pagar setelah melihat Nandra yang masih diam di depan rumah dan mengajak yang lain untuk masuk, Jendra memarkirkan sepedanya dan menyusul saudaranya yang lain.
Ceklek
Baru saja mereka ingin mengucap salam, sebuah suara gaduh terdengar dari arah dapur membuat keempatnya berlari kedalam dan menemukan Ayahnya yang menunduk di hadapan Bunda yang sedang berkacak pinggang, tak lupa sebuah panci sudah tergeletak di lantai dan dengan rebusan macaroni yang sudah berhamburan.
"Gimana sih yah, kan Bunda udah ngasih serbet itu loh buat ngangkat pancinya kok malah di angkat pake tangan kosong. Sini Bunda liat tangannya"
Jeffri memberikan tangannya dengan takut-takut, Ana mengambil tangan suaminya itu dan membawanya menuju wastafel guna mengalirkan air ke tangan suaminya itu agar tidak melepuh akibat panci panas yang dipegang oleh suaminya tadi.
Cup
Setelah selesai di basuh Ana mencium jari-jari Jeffri lalu tersenyum sangat manis memberikan tatapan yang amat lembut bagi suaminya itu.
"Kita obatin dulu. Habis itu lanjut masak, bentar lagi anak-anak pulang soalnya"
Jeffri mengangguk lucu lalu berbalik ingin menuju ruang keluarga tapi langsung terhenti saat melihat keempat anaknya yang sudah berdiri sejajar sambil melihat kearahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Family
Fiksi PenggemarTak sedarah tapi tumbuh bersama. Tak seibu tapi saling bergantung. Tak seayah tapi saling sayang. Lahir dari rahim yang berbeda tetapi di rawat oleh orang tua yang sama. Mereka ada untuk melengkapi satu sama lain.
