Chapter 27 "Para Remaja Tanggung"

3.5K 309 4
                                        

Our Family

Ayah
Bunda

🦊
🐶
🐻
🐰


Aroma harum masakan memenuhi penjuru dapur pagi itu, bau roti panggang yang baru keluar dari mesin toast membuat Ana menampilkan senyumnya. Dua cangkir kopi hitam sudah tersaji di meja makan. Dirinya mengawali pagi hari ini dengan nuansa yang tenang dan damai.







Pikirnya..








"BUNDA!!!!"

Ibu empat anak itu menghela nafas lelah, dia berbalik untuk melihat apalagi yang dilakukan oleh anak-anaknya hari ini. Rendra berlari dengan penampilan acak-acakan sehabis bangun tidur menuju ke arahnya.

"apalagi?" tanya Ana

"Please Nda. Mas nggak tahan, Mas nggak kuat sekamar sama Hendra Bunda" keluhnya, sekarang posisinya sudah duduk lesehan di lantai dapur sembari menatap penuh harap ke arah Bundanya.

"Emang dia ngapain? baru juga seminggu kamu sekamar sama adekmu yang itu"

"Mas kenapa?" suara dari belakang Rendra membuat pemuda itu berbalik saat melihat siapa yang datang dia langsung mendatanginya dan menarik tangannya.

"Apaan nih??" tanya Nandra keheranan

"Dek please Dek tukeran lagi, Mas nggak sanggup sekamar sama Hendra"

Seolah mengerti perasaan Masnya itu, Nandra menepuk bahu Rendra beberapa kali tidak lupa dengan wajah prihatinnya.

"Sekarang Mas ngertikan kenapa Adek punya banyak earphone dengan jenis yang beda-beda? maaf, untuk tukeran adek harus nolak. Semangat Mas Ren" Rendra tertunduk lemas, sekarang dia mengerti penderitaan adik bungsunya.

Jendra yang baru saja turun mengernyitkan dahinya ketika melihat kakak terdiam berdiri seolah kehilangan jiwanya, dia melangkahkan kaki menuju meja makan dimana disana sudah ada Nandra yang anteng memakan roti panggang.

"Kenapa tuh?" tanyanya

"Culture Shock" balas Nandra singkat

"Emang separah itu ya Hendra ngoroknya?" tanya Ana dia menaruh beberapa lauk yang sudah dimasak ke atas meja makan untuk sarapan pagi keluarga nya.

"Gini ya Nda, biar Nandra jelasin. Kak Hen itu bukan cuman ngoroknya doang yang parah tapi kadang sampe ngigo dan dia kalo tidur itu udah kayak simulasi"

"Simulasi apaan?" potong Jendra

"Simulasi meninggal" jawab Nandra yang mana langsung mendapat tepukan kecil di bibirnya dari Ana

"Heh! Mulutnya"

"Ya pokoknya gitu lah, jadi mau dibangun kek gimana juga nggak bakal bangun makanya alarmnya itu tiap lima menit bakal bunyi. Gimana nggak ke ganggu coba, udah ngoroknya kenceng alarmnya juga kenceng. Makanya, Nandra sih wajar Mas se-depresi itu"

Mendengar itu membuat Ana menatap prihatin anak sulungnya itu, dia mendekati Rendra dan menepuk bahunya.

"Nanti Bunda omongin sama Ayah ya, mandi dulu gih nanti telat kamu sekolahnya" dengan lemas Rendra mengangguk dan berjalan menuju kamarnya.

Jeffri yang baru keluar kamar menatap anaknya yang terlihat lunglai berjalan menuju lantai dua.

"Masih ngantuk kah dia jadi jalannya lemes kek gitu?" tanyanya sambil menarik kursi untuk ia duduki. Ana dengan sigap memberikan morning coffee milik suaminya itu.

"Daripada masih ngantuk kayaknya lebih ke nggak bisa tidur sih" balas Nandra

"Nggak usah nanya, nanti minta jelasin ke Bunda aja" lanjut Nandra cepat saat melihat Ayahnya seperti hendak mengajukan pertanyaan lanjutan.

Our FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang