"Yolanda Melviana!" pekik Sela dengan memakai kaos olahraga dari pintu masuk UKS.
Sang empunya nama hanya bisa memutar bola matanya malas. Pasti Sela hanya akan memarahinya habis-habisan.
"Lo sehari ke UKS berapa kali sih? Udah kaya minum obat aja sampe tiga kali sehari," omel Sela setibanya di ranjang tempat Yolanda berbaring.
"Mulai deh bacotnya. Gue gapapa, Sela," shit Yolanda lemas. Terlihat perban melingkari leher bagian depannya.
"Ini kenapa lagi? Kok bisa diperban begitu?" tanya Sela sedikit merasa takut.
"Kena pul—
"Gapapa, kegigit serangga tadi," potong Yolanda saat melihat Septa akan menjawab pertanyaan temannya.
"Yang bener? Jangan boong lo, bilangin tante Mirna nanti," ancam Sela.
Tentu saja ancaman itu tidak manjur untuk Yolanda. Sudah berkali-kali ia dimarahi mamanya.
"Gue panggilin Davin ya?" lanjut Sela siap-siap mengambil ponselnya.
"Jangan, gak usah manggil si ribet. Males gue," tolak Yolanda sambil berusaha mendudukkan dirinya.
Septa membantu gadis itu. Membuat Yolanda sedikit merasa bahagia karena tingkat kepekaan laki-laki ini yang luar biasa.
"Loh lo kan yang tadi pagi nabrak Yolan? Jangan-jangan lo lagi yang bikin Yolan begini?" terka Sela melebih-lebihkan.
"Bukan, justru dia yang nyelametin gue. Dah ah sana ke lapangan aja, berisik mulu," usir Yolanda yang sejatinya hanya ingin berduaan dengan Septa.
"Yaudah, gue ke lapangan dulu. Nanti kalo ada apa-apa bilang aja," pamit Sela yang mengerti maksud perkataan Yolanda.
Selepas kepergian Sela, keduanya diselimuti keheningan. Yolanda yang memang masih lemas dan Septa yang bingung harus mengorbol apa.
"Lo mau diem gitu terus?" tanya Yolanda menatap Septa dalam.
"Lehernya masih sakit nggak?" tanya Septa balik.
"No, udah baikan. Lo ke kelas aja sana," usir Yolanda.
"Yakin bisa sendiri?" tanya Septa meyakinkan.
Melihat Yolanda yang mengangguk pasti, Septa langsung berdiri hendak ke kelas. Belum sempat melangkahkan kaki, ia langsung duduk kembali di posisinya tadi.
"Kenapa nggak jadi?" tanya Yolanda kebingungan.
"Makasih udah mau nolongin gue, tapi lo nggak harus ngelakuin hal yang ngebahayain diri lo sendiri," ucap Septa pelan.
Yolanda terdiam. Ia melihat ketulusan dari sorot mata laki-laki ini. Yolanda yang tau mau membuat Septa khawatir, ia langsung tersenyum ceria.
"Gue gapapa kok, cuma kegores dikit ini," sahut Yolanda mencoba membuat Septa tidak merasa bersalah.
"Lagian lo tuh ya, jadi cowok jagoan begitu. Kalo ada yang semena-mena sama lo, lawan dia. Mau dia pemilik sekolah kek, anaknya presiden kek gak seharusnya dia semena-mena sama lo yang sama-sama manusia biasa," lanjut Yolanda memberikan wejangan.
Septa tersenyum kecil. Mendengar penuturan Yolanda, mampu membuatnya merasa sedikit tenang. Karena waktu yang semakin siang, Septa beranjak berdiri.
"Gue ke kantin dulu ambil sisa titipan risol. Nanti kalo mau balik tungguin ya," pesan Septa meninggalkan Yolanda begitu saja.
Yolanda hanya tersenyum kecil. Laki-laki itu orang yang baik, walaupun cukup ngeselin sih. Setidaknya Septa lebih baik daripada lima laki-laki yang sudah merundungnya. Teringat akan kelakuan manusia bejat itu, Yolanda langsung mengambil teleponnya. Ia langsung membeberkan kejadian tadi lewat menfess SMA Angkasa. Tak lupa mengambil foto bekas goresan pena tadi dan langsung mengunggahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
