Keesokan harinya, Yolanda terbangun cukup siang. Gampangnya, Yolanda kesiangan. Dengan buru-buru, gadis itu mempersiapkan segala hal yang akan ia bawa ke sekolah hari ini.
"Please please jangan sampai ada yang ketinggalan!" pekik Yolanda panik.
Ceklek
"Kok belum turun?" sapa Damar yang sudah pulang dari perjalanan dinas.
Yolanda tidak sempat menyapa papanya. Ia justru semakin panik saat melihat papanya berjalan mendekat ke arahnya.
"Cari apa sayang? Udah mau jam tujuh ini lho," tegur Damar.
"Nah udah pa. Eh lho papa?" Yolanda baru sadar kalau manusia di depannya ini benar papanya.
"Iya ini papa. Udah ayo berangkat, sama Davin ya?" ujar Damar mendorong tubuh Yolanda untuk segera keluar dari kamar.
Tidak ada sarapan. Mamanya belum pulang, papanya tidak masak. Bukan masalah besar, Yolanda masih bisa beli sarapan di luar.
"Ayo berangkat, Vin!" ajak Yolanda ngacir ke garasi.
Davin melenggang santuy di belakang kakaknya. Mereka berpamitan kepada papa Damar dan langsung tancap gas pol menuju sekolah. Sepuluh menit lagi, gerbang sekolah akan ditutup. Dengan berdzikir yang kencang serta doa-doa yang Yolanda layangkan, keduanya sanggup tiba di sekolah tepat sebelum pintu di tutup.
"Huft, untung aja enggak telat," gumam Yolanda sambil melepas helmnya.
"Lo hari ini keliatan ceria amat," tegur Davin sembari turun dari motornya.
"Kenapa? Nggak demen lo?" sinis Yolanda melenggang pergi.
Yolanda berjalan cukup cepat. Hari ini, ia ada jadwal mata pelajaran olahraga. Gadis itu sudah memakai kaos olahraganya dan bergegas untuk meletakkan tasnya di kelas. Dengan terburu-buru, Yolanda berlari menuruni anak tangga menuju lapangan. Disana, terlihat semua teman kelasnya sedang bersiap untuk melakukan pemanasan.
"Heh! Ini pak Bangkit belum kesini 'kan?" tanya Yolanda ke salah satu teman laki-lakinya.
"Belom. Lo kenapa dah?" tanya Mario heran melihat Yolanda yang seperti habis kejar-kejaran dengan hantu.
Yolanda menggelengkan kepalanya. Saat netranya mengitari lapangan, Yolanda terkejut kala melihat Sela sudah berangkat dan berbaris di barisan depan.
Yolanda berjalan menghampiri sobatnya.
"Lah udah balik lo?" tegur Yolanda dari belakang.
"Anjir ni makhluk satu! Bikin kaget aja dih," seru Sela yang benar-benar terkejut.
"Sorry gak bermaksud ngagetin. Lagian lo, udah balik aja?" tanya Yolanda lagi.
"Iya si Megan minta balik semalam. Yaudah kita balik aja," sahut Sela berbisik pelan.
Pak Bangkit sudah memasuki lapangan. Membuka pelajaran olahraga dan langsung melakukan pemanasan. Yolanda dan Sela asyik cekikikan saat melakukan gerakan pemanasan yang sekiranya cukup lucu.
"Pantat gue keliatan bohay banget kaga ye?" celetuk Sela dengan percaya diri yang sangat tinggi.
Yolanda mendengus sebal. Saat sedang merenggangkan otot pinggangnya, Yolanda tak sengaja melihat Septa yang sedang membawa setumpuk buku pelajaran dengan perempuan di sampingnya. Yolanda tak sengaja bertatapan dengan mantan kekasihnya.
Cepat-cepat Yolanda memutuskan kontak mata. Ia tak mau tahu lagi tentang kehidupan Septa. Yolanda hanya ingin menutup kisah mereka.
"Kenapa lo?" tegur Sela.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
