"Gue abisin yak?" tanya Yolanda basa-basi. Gadis itu siap menghabiskan jajanan ini.
Septa hanya tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk mengelus pucuk kepala Yolanda. Tatapan laki-laki itu sungguh penuh rasa sayang. Yolanda acuh, ia sibuk memakan jajanannya. Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering. Yolanda mengambil benda pipih itu dan siap menyumpai siapapun yang meneleponnya. Saat melihat nama mamanya, Yolanda langsung menekan ikon berwarna hijau.
"Halo ma?" sapa Yolanda sambil mengunyah sisa makanan di mulutnya.
"..."
"Oh iya oke, kirim ke Yolan aja. Nanti balik sekolah sekalian mampir," sahut Yolanda masih asyik mengunyah.
"..."
"Santai aja ma. Yaudah udah dulu ya," pamit Yolanda menutup telepon langsung.
"Kenapa?" tanya Septa penasaran.
"Mama mau titip sesuatu. Paling belanjaan rumah," sahut Yolanda acuh.
"Nanti gue temenin ya," timpal Septa excited.
"Enggak usah, takutnya lo udah sibuk sama usaha lo sendiri," tolak Yolanda tak enak.
"Enggak dong. Itu kan udah ada mbok-mbok yang bisa handle," balas Septa.
"Lo percaya sama mereka?" tanya Yolanda tidak berusaha memprovokasi siapapun.
"Percaya. Mereka ikut andil dalam pertumbuhan usaha gue,"balas Septa.
"Emang orangtua lo kemana?" ceplos Yolanda tanpa sadar.
Awalnya hening. Yolanda hendak meminta maaf, mana tau ia terlalu lancang. Septa menahan gerakan gadis itu. Tatapannya menatap tajam ke wajah Yolanda yang telah memunculkan tatapan puppy eyes.
"Nggak usah ngerasa bersalah. Mereka udah meninggal lama, karena kecelakaan," ujar Septa pelan.
"Maaf ya, gue-
"Gapapa sayang. Udah lama juga, dari gue SD kelas 3. Gue dibesarin sama nenek dan mbok yang sekarang bantu-bantu di usaha gue. Jadi, gue percaya sama mereka. Yakali, orang yang udah gue anggap kaya orangtua sendiri bakal mengkhianati anaknya?" terang Septa panjang lebar.
Yolanda membulatkan bibir. Ia tak tau sejarah keluarga Septa, padahal mereka sudah menjalin hubungan yang cukup lama.
Gadis itu mengelus bahu laki-laki itu, membuat Septa melirik ke arah tangan mungil Yolanda. Tatapan bertanya terlihat jelas pada raut wajah kekasih Yolanda.
"Walaupun lo udah dewasa, tapi gue tau kok kalau lo pasti sering ngerasa kesepian," ucap Yolanda pelan.
Septa berkedip pelan. Gadis ini...
Tiba-tiba Yolanda memeluk Septa. Mengelus Surai pendek kekasihnya serta tepukan pelan di bahu laki-laki itu. Setia masih bingung harus bereaksi bagaimana.
"Gue nggak tau cara menghibur orang lain. Tapi, mungkin pelukan ini bakal bikin perasaan lo lebih menghangat dari biasanya," ucap Yolanda di sela-sela ceruk leher Septa.
Septa melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yolanda. Ia menelan ludahnya kasar, berusaha agar tetap tegar dan tidak menangis di depan Yolanda.
"Kalau ada masalah atau sesuatu yang mengganjal, lo boleh banget cerita sama gue. Kita ini bukan orang asing, Septa. Keluarin aja beban yang selama ini lo tanggung sendiri," lanjut Yolanda yang membuat pertahanan Septa runtuh.
Air mata Septa luruh begitu saja. Isakan kecil terdengar dari bibir tipis laki-laki itu. Yolanda tersenyum kecil meskipun masih sambil menepuk punggung tegap milik Septa. Septa semakin sesenggukan, Yolanda tertawa pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Novela JuvenilYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
