"Yolanda!" pekik Azka merengkuh tubuh Yolanda yang tiba-tiba saja terjatuh pingsan.
Dengan cekatan Azka langsung membawa Yolanda dalam pelukannya. Menggendong ala bridal style dan langsung berjalan menuju brankar terdekat. Ia melanjutkannya dengan melakukan pemeriksaan sebentar.
"Sus, tolong ambilkan infus dan beberapa vitamin berupa anestesi," perintah Azka kepada suster yang sudah ada di sampingnya itu.
Suster tadi langsung membawa apa yang Azka perintahkan. Laki-laki itu langsung memasang infus itu dengan tangannya sendiri. Tatapannya fokus ke wajah Yolanda yang semakin memucat.
"Tolong.. bertahan Yolanda," gumam Azka.
Yolanda kelelahan. Tetapi ini juga bisa memanggil penyakit lain yang kemungkinan bisa menggerogoti tubuhnya yang ringkih. Belum selesai memasang infus, fokus Azka teralihkan oleh suara teriakan ibu-ibu di dekat resepsionis.
"Saya cari pasien atas nama Davin di IGD kok nggak ada? Apa maksud kamu di ICU?" teriak ibu tadi.
Azka langsung memberikan kode kepada suster untuk mem-backup tugasnya. Azka berjalan mendekat ke arah ibu tadi.
"Permisi ibu," panggil Azka pelan.
Ibu tadi menengok ke arah sumber suara. Wajahnya terlihat panik dan penuh kekhawatiran. Azka semakin bingung bagaimana caranya ia menjelaskan kepada ibu Yolanda.
"Ibu ini wali dari Yolanda dan Davin ya? Mari saya antar ke Yolanda bu," ajak Azka ke arah Mirna.
Mirna mengikuti langkah Azka menuju brankar tempat Yolanda terlelap. Mirna langsung mendekat ke arah putri kesayangannya. Tangannya mengelus rambut Yolanda dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.
"Pasien tidak kenapa-napa Bu. Yolanda hanya kelelahan dan nanti kalau infusnya sudah habis, pasien sudah boleh pulang," terang Azka mencoba tetap profesional.
"Terimakasih dok," sahut Mirna menahan isak tangisnya.
Seakan sadar akan sesuatu, Mirna langsung menatap ke arah Azka.
"Davin, Davin dimana dok?" tanya Mirna saat sadar bahwa putranya tidak ada di dekat Yolanda.
"Untuk pasien Davin.. pasien di ICU bu. Dikarenakan luka tusukan di pinggangnya kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamat- ibu!" pekik Azka langsung menahan tubuh Mirna yang nyaris terjatuh di lantai.
"M-maksudnya? Davin operasi? Dokter jangan bohong dok!" teriak Mirna tak terima.
Azka menutup matanya sebentar. Ia merasa sudah kehabisan akal untuk menjelaskan situasi ini kepada Mirna.
"Ma..," lirih Yolanda yang ternyata sudah siuman.
"Yolan ya Allah.. kamu sudah sadar sayang?" tanya Mirna langsung beranjak mengelus wajah Yolanda.
Putrinya tersenyum kecil. Pandangannya terarah kepada Azka yang wajahnya terlihat sangat kacau.
"Ma, apa yang dokter bilang itu emang benar. Davin ada di ICU sekarang," ucap Yolanda tiba-tiba.
Mirna terkejut sejadi-jadinya. Bagaimana bisa putrinya mengatakan hal yang sama seperti dokter?
"Maksud kamu? Jangan bohong sama mama, Yolan!" seru Mirna tak mau mendengar kalimat Yolanda.
"Tapi memang itu kebenarannya, Ma. Davin kena tusuk sama Sela. Tapi Davin udah dioperasi dan sekarang dia di ICU," ucap Yolanda berusaha meyakinkan sang ibunda.
Tubuh Mirna nyaris terjatuh ke bawah kalau tidak ada Azka yang menopang tubuh wanita paruh baya itu. Wajah Mirna sedikit memucat, sepertinya ia sangat syok mendengar informasi dari putrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Fiksi RemajaYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
