Motor matic keduanya sudah terparkir di depan gerbang rumah sepi Yolanda. Sepertinya, kedua orangtua gadis itu sudah mulai beristirahat malam.
"Mama kayanya udah tidur deh. Lo mau masuk dulu?", tawar Yolanda sambil melepaskan helm yang cukup berat dari kepalanya.
"Lo mau ngajak ngapain?", timpal Septa tersenyum jahil.
Ya. Mereka kembali menggunakan lo-gue karena merasa aneh. Yaudah lah, suka-suka mereka aja.
"Pikiran lo ya! Cuma nawarin mampir kok", delik Yolanda merengut sebal.
"Haha iya-iya sayang. Udah sana lo masuk, gue mau pulang aja. Besok gue jemput ya", balas Septa menepuk pucuk kepala Yolanda dengan lembut.
"Oke deh. Gue masuk duluan ya", pamit Yolanda anti menye-menye.
Septa tersenyum kecil. Tangannya melambai ke arah gadis itu yang sudah masuk ke arah gerbang. Senyumnya tak luntur bahkan saat Yolanda sudah hilang di balik pintu rumahnya.
"Baru ditinggal aja udah kangen lagi", gumam Septa sambil memakai kembali helmnya dan siap untuk melajukan motornya untuk pulang.
Sedangkan Yolanda, gadis itu sudah masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas. Benar dugaannya. Mama dan papanya sudah istirahat di kamar dan menyisakan Davin yang sepertinya masih belum tertidur di kamar yang terletak di sebelah kamarnya.
Tok tok tok
Yolanda mengetuk pintu depan Davin yang tumbenan sekali tertutup rapat. Gadis itu mengetuk lagi, belum ada respon. Sebal diabaikan, Yolanda langsung menarik gagang pintu dan mendorong benda kokoh itu.
Hal pertama yang ia dapati adalah adiknya yang sedang terlelap di atas kasur. Tidak biasanya. Padahal Davin sangat suka begadang, walaupun hanya untuk bermain game atau melakukan aktivitas yang tidak jelas.
"Vin? Lo udah tidur?", tanya Yolanda sambil berjalan mendekat.
Tidak ada respon. Yolanda semakin mendekat. Setelah sampai di dekat ranjang laki-laki itu, tangannya terulur untuk mengecek apakah Davin benar-benar tidur atau hanya berbohong.
"Woi! Eh? Kok badan lo panas gini?", gumam Yolanda sambil meraba wajah dan area leher Davin.
Anak itu menggeliat pelan. Lenguhan terdengar dari bibir pucatnya. Perlahan, kelopak mata Davin terbuka dengan tatapan yang sayu.
"Lo ngapain?", tanya Davin dengan suara serak.
Laki-laki itu berusaha untuk mendudukkan dirinya. Yolanda membantu adiknya sendiri. Raut wajah khawatir mulai terpampang jelas di wajahnya.
"Lo abis ngapain sampe demam begini?", tanya Yolanda sambil mengelap keringat yang mengalir di wajah adiknya.
"Gue gapapa. Sana ke kamar lo aja", ucap Davin pelan.
"Gapapa gimana? Badan lo panas gini", protes Yolanda beranjak berdiri.
"Lo diem sini, gue bawa kompres dulu", lanjut gadis itu memberikan peringatan kepada adik keras kepalanya.
Yolanda cepat-cepat berjalan turun ke lantai bawah. Ia mengambil handuk kecil dan baskom yang akan ia isi dengan air hangat dari dispenser.
Sesampainya Yolanda di kamar sang adik, Davin sudah terlelap kembali. Entah tidur atau sedang menikmati rasa sakit. Yolanda buru-buru mendekat sambil merendam handuk dengan air hangat yang sudah ia bawa.
Davin menggigil pelan. Yolanda mengelus surai panjang Davin yang sudah melewati kening laki-laki itu. Yolanda menempelkan handuk hangat ke atas kening lebar milik Davin. Bibir anak itu terangkat sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
