16. Septa's Maturity

642 152 7
                                        

Paginya, Yolanda sudah terbangun pagi-pagi sekali. Ia menyadari bahwa mamanya tidak tidur dengan baik. Gadis itu langsung turun dari brankar secara diam-diam supaya mamanya tetap tertidur.

Yolanda mulai berjalan menuju kamar mandi. Menyikat gigi dengan peralatan seadanya dan mencuci muka adalah dasar. Ingat tentang sesuatu, Yolanda langsung mencari ponselnya. Dengan buru-buru Yolanda langsung menelpon seseorang.

"Halo Septa? Maaf banget, kayanya gue nggak berangkat hari ini. Lo udah terlanjur bikin risolnya ya?" tanya Yolanda to the point.

"Iya gue udah bikin. Lo kenapa nggak masuk?" sahut Septa dari seberang.

"Gue nggak apa-apa, ada sesuatu. Risolnya lo titipin aja ke kantin, nanti uangnya gue transfer ya," balas Yolanda berbohong.

"Lo yakin lo gapapa?" tanya Septa memastikan untuk kedua kalinya.

Walaupun Septa tak bisa melihatnya, Yolanda tetap mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Iya gue gapapa. Udah dulu ya, see you!" tutup Yolanda.

Yolanda tak mau membuat keributan dengan mendatangkan Septa kemari. Lagipula, mamanya mungkin bisa lupa perkara risol yang dirinya pesan itu.

"Astaghfirullah om! Eh dokter Azka?" Yolanda terkejut saat membalikkan badan dirinya langsung menjumpai Azka yang berdiri di samping meja resepsionis sambil menatapnya intens.

"Kaget banget kayanya. Lagi telepon sama pacar atau gimana?" balas Azka diselingi candaan.

"Bukan, telepon temen. Oh iya dok, Davin gimana? Udah sadar belum?" tanya Yolanda saat baru kepikiran kondisi adiknya saat ini.

"Udah kok dari semalam," balas Azka enteng.

"HAH DARI SEMALEM?" pekik Yolanda terkejut.

Azka juga terkejut. Ia langsung membungkam mulut Yolanda yang tiba-tiba memekik dengan kerasnya. Beberapa suster dan pasien yang ada disekitar mereka hanya menatap tajam ke arah keduanya.

"Inget ini rumah sakit, Yolanda. Jangan teriak-teriak begitu," peringat Azka sambil menurunkan tangannya.

"Hehe maaf dok. Davin beneran udah siuman?" tanya Yolanda sekali lagi.

Melihat anggukan pasti dari Azka, Yolanda langsung ngibrit ke ruangan ICU. Ia bahkan meninggalkan mamanya begitu saja. Yolanda terlalu excited untun bertemu dengan adik resenya itu.

Ceklek

Di depannya, Davin sedang diganti perban bagian lukanya. Suster yang sedang mengobati pun ikut menoleh karena tindakan olanda yang secara tiba-tiba membuka pintu tanpa membuat suara.

"Lanjutin aja sus. Orang gila nggak usah dihiraukan," ucap Davin dengan suara sedikit serak.

"DAVIN!" teriak Yolanda menghambur ke adiknya.

Davin mengangkat tangannya. Ia tak mau Yolanda memeluk dirinya dengan kondisi tubuh Davin yang sedang diganti perban.

"Lo beneran gila? Gue lagi di ganti perban, Yolanda," pekik Davin melotot.

"Loh? Iya ya. Maaf deh kirain lo cuma pencitraan doang," kekeh Yolanda mulai gesrek.

Davin memutar bola mata malas. Suster yang menggantikan perban sudah menunaikan tugasnya. Saat sang suster hendak pamit, Davin menahan lengan suster tadi.

"Sus makasih ya. Bilangin dong sama yang nganter makan, saya gak mau bubur. Gak enak," cengur Davin yang dibalas senyuman ringan sang suster.

Tangan Yolanda melayang ke kepala Davin. Membuat sang empunya kepala memekik kembali. Walaupun tidak luka, tetapi tetap saja sakit. Mengingat tenaga Yolanda yang sama kuatnya seperti banteng.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang