6. Septa dan Davin

871 187 26
                                        

"Septa, pacaran yuk?" ucap Yolanda secara tiba-tiba.

Septa mengentikan langkahnya. Sekarang keduanya sudah berada di luar pagar SMA Angkasa lewat pintu belakang. Menghadapkan diri dengan warung pinggir jalan yang biasanya menjadi tempat bolos anak sekolah sekitar.

"Apa?" tanya Septa balik.

Yolanda yang sadar akan ucapannya barusan, ia langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Gadis itu bingung harus menjelaskan bagaimana.

"Nggak jadi deh, ayo kita mau kemana?" tanya Yolanda menatap sekeliling.

Septa turut mengedarkan pandangan. Tak sedikit anak berseragam sekolah yang berada di warung tadi. Didominasi oleh anak-anak nakal yang sedang nongkrong dengan baju dikeluarkan dan jangan lupakan ujung tangan mereka yang terdapat putung rokok yang masih menyala.

"Lo mau kemana?" tanya Septa menawarkan.

"Hemm kemana ya?" gumam Yolanda seraya berpikir keras kemana tujuannya hari ini.

"Aha! Ke danau dekat sini gue aja. Nggak lama kok dari sini," lanjut Yolanda saat sudah teringat akan lokasi yang nyaman untuk membolos.

Setelah menggenggam tangan Septa, dengan langkah pasti Yolanda langsung berjalan ke arah barat. Melewati jalanan setapak kecil demi menghampiri lokasi danau tadi. Sebenarnya bukan danau yang seluas itu sih, lebih tepatnya seperti sungai yang melebar dan cukup dalam. Dulu saat masih bersama Megan, Yolanda sering kesini karena diajak piknik oleh sang mantan.

"Gue ngapain ngajak Septa kesini sih ya gusti," batin Yolanda saat sadar jika ini lokasi kencannya bersama mantan dulu.

Septa menatap kagum akan lokasi ini. Banyak pepohonan dan taman yang dihiasi bunga berwarna-warni. Ternyata masih ada tempat asri seperti ini ditengah-tengah kota yang sangat jarang ditemukan pohon.

"Lo tau darimana ada lokasi kaya gini?" tanya Septa yang tiba-tiba saja terpikirkan.

"Eeee dari Sela, lo tau Sela 'kan?" bohong Yolanda tak mau Septa mengetahui hal yang sebenarnya.

Septa manggut-manggut. Laki-laki itu berjalan mendahului Yolanda yang masih berdiri dekat pohon beringin tempat mereka terkagum-kagum tadi. Septa sudah mendekat ke arah air.

"Septa! Jangan deket-deket, airnya dalem," peringat Yolanda sambil berjalan mendekati Septa.

Padahal Septa hanya sedikit mencelupkan jarinya. Ia tak ingin menyeburkan diri ke dalam danau yang memang terlihat agak dalam.

"Gue nggak segila itu, Yolan," sahut Septa enteng. Ia kembali menarik tubuhnya ke belakang.

Kedua insan itu duduk berdampingan di rerumputan dengan jarak sekitar satu meter lebih dari bibir danau. Suara kicauan burung merdu terdengar. Jangan lupakan udara yang terasa sejuk mulai keluar masuk ke kedua paru-paru mereka.

"Lo ambil IPA ya?" tanya Yolanda tiba-tiba.

Septa mengangguk. Memang benar kalau dia mengambil IPA. Septa adalah anggota kelas XI MIPA 2. Bukti bahwa seorang bukan orang yang biasa-biasa saja. Tetapi otaknya mampu bersaing dengan siswa lain di kalangan anak IPA.

"Cih, kok bisa ada orang yang ngambil IPA begitu. Padahal banyak itung-itungannya," decih Yolanda yang masih dapat didengar oleh Septa.

"Kalo lo? Apa alasan lo masuk IPS?" tanya Septa berusaha mendebat penyataan Yolanda.

"Jelas karena gue nggak mau kebanyakan itung-itungan. Ya walaupun ada akuntansi, tapi nggak sebanyak itu," jelas Yolanda apa adanya.

Septa tak bisa menyangkal pendapat Yolanda. Memang benar apabila masuk IPA, maka harus siap dengan konsekuensi yaitu banyak materi perhitungan. Matematika saja ada dua, peminatan dan matematika biasa. Belum lagi fisika, kimia dan biologi yang tetap butuh perhitungan dasar.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang