41. Date With Him

481 189 11
                                        

Kuda besi Septa sudah terparkir manis di depan gerbang rumah Yolanda. Gadis itu turun perlahan dengan bantuan Septa yang lumayan peka hari ini.

"Tumben," sindir Yolanda tak ayal menerima uluran tangan dari kekasihnya.

"Sekali-kali biar romantis," balas Septa lempeng.

"Mau mampir?" tanya Yolanda sambil melepas helmnya.

"Kayaknya enggak dulu deh. Gue ada pesanan risol banyak, tetangga mau hajatan besok," tolak Septa tersenyum kecil.

"Yaudah, gue masuk. Lo hati-hati pulangnya. Kalo udah sampe kabarin gue," ujar Yolanda ikut tersenyum kecil.

Septa mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil. Yolanda yang gemas, ia berusaha menahan diri untuk tidak menyunyel-unyel pipi gembul pacarnya.

"Eh sini deh pinjem tangan lo," ucap Septa tiba-tiba.

"Tangan gue?" tanya Yolanda dengan tangan kanan yang terulur.

Septa meletakkan telapak tangannya di bawah jemari mungil milik Yolanda. Dengan smooth, laki-laki itu mengecup pelan punggung tangan gadis itu. Yolanda mendelik lucu. Septa sendiri justru tertawa cekikikan melihat ekspresi syok yang Yolanda tunjukkan.

"Heh! Main cium-cium aja," pekik Yolanda pelan.

"Kenapa? Cuma tangan ini," sahut Septa masih belum melepaskan tangan Yolanda.

"Udah ya, nanti mama papa liat gimana?" peringat Yolanda berusaha melepaskan tangannya.

"Bukan mereka yang liat, tapi gue bahlul!" sahut Davin dari balkon kamarnya.

Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu, dengan kompak memutar kepalanya ke arah sumber suara. Yolanda menjulurkan lidahnya dengan sengaja. Berusaha memanasi Davin supaya iri karena tidak punya pacar.

"Wle! Daripada lo jomblo akut," ledek Yolanda sambil menyenderkan kepalanya di bahu tegap milik Septa.

Septa juga sama. Ia dengan santai memasang wajah meledek dan ikut mengelus-elus rambut Yolanda seolah sudah merencanakan hal ini.

"AWAS AJA! GUE CEPUIN PAPA TAU RASA LO!" teriak Davin langsung menutup kaca jendelanya.

Bukanya panik, Yolanda dan Septa justru tertawa terbahak-bahak. Mereka ber-high five dengan tawa yang masih terpancar diantara keduanya.

"Adek lo lucu parah," ucap Septa disela-sela tawanya.

"Emang. Tuh anak gampang banget dikomporin," timpal Yolanda masih belum bisa menghentikan tawanya.

"Ketawa terus, nggak inget waktu ya kak?" seru sebuah suara dari samping keduanya.

Yolanda menengok. Disana berdiri papanya dengan baju rumahan serta tangan yang terlipat di depan perut buncitnya. Seketika Yolanda menutup rapat mulutnya. Begitupun Septa yang langsung kicep menghadapi calon papa mertua.

"Sini kalian, masuk dulu," perintah Damar langsung berjalan masuk.

Septa dan Yolanda mengekor di belakang Damar. Motor laki-laki itu ia tinggalkan begitu saja di depan pintu gerbang. Yolanda menatap takut-takut ke wajah Septa yang justru dengan santainya tersenyum menenangkan.

"Gapapa, nanti bilang aja kalo gue yang ngajak lo pulang sore," bisik Septa berusaha menenangkan kekasihnya.

Setelah masuk ke ruang tamu, disana terlihat Damar yang sudah duduk di singlet seat sofanya dengan wajah sedikit dingin. Yolanda mendekat dengan sungkan.

"Darimana kamu? Inget waktu pulang nggak?" tanya Damar mulai menginterogasi putrinya.

"Mohon maaf menyela om, biar saya saja yang menjelaskan," potong Septa tak mau Yolanda yang menjelaskan.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang