Pagi hari telah tiba. Hari ini tepat hari pernikahan Sela. Yolanda terbangun dengan wajah yang sangat mengerikan. Kantung mata yang menghitam, dan rambut yang sangat berantakan menghiasi wajah bangun tidurnya.
Gadis itu meraih ponselnya yang tergeletak malang di nakas dekat kasurnya. Banyak notifikasi dari teman maupun dari Septa. Yolanda masih belum mencampakkannya.
Satu notifikasi menarik perhatiannya.
Septa Rahmawan
Yolanda maaf, gue mengakui kalau gue selingkuh dari lo
Alasannya, gue nggak bisa jelasin karena lo pasti bakal mikir semua cowok sama aja
Kita udahan ya, lo yang putusin gue
23.16
Senyuman getir terbit di wajah Yolanda. Ia hanya membaca pesan tersebut tanpa memberikan respon. Sangat brengsek. Harusnya kalau mau memutuskan hubungan, bisa bertemu secara langsung bukan?
"Sial, gue pusing banget," umpat Yolanda saat mencoba bangun.
Dengan langkah gontai, Yolanda berjalan masuk menuju kamar mandi. Ia harus membersihkan diri dan datang ke acara pernikahan Sela dengan wajah yang penuh kegembiraan.
Setelah menghabiskan waktu 30 menit lamanya, Yolanda sudah siap dengan dress berwarna biru muda dan rambut yang hanya di tata sederhana. Ia tidak ingin terlihat mencolok di hari bahagia temannya.
"Kasih blush on dikit biar nggak keliatan kayak mayat hidup," gumam Yolanda seraya mengoleskan blush on di pipinya.
Pintu kamarnya terbuka. Menampakkan Davin dengan setelan kemeja hitam dengan celana yang senada. Jangan lupakan rambut anak itu yang sudah tertata rapi.
"Udah siap?" tanya Davin ke arah Yolanda yang justru melongo heran menatap adiknya yang hari ini terlihat sedikit tampan.
"Lo mau kemana?" tanya Yolanda absurd.
"Lah bukannya si Sela nikahnya sekarang? Ayo kondangan, gue udah siap nampung banyak makanan," ajak Davin seraya masuk ke dalam kamar kakaknya.
Ia geleng-geleng kepala melihat meja rias Yolanda yang sangat berantakan. Banyak produk make-up yang berceceran tak tertutup dengan wadahnya.
"Buset! Ini kamar anak gadis udah kayak medan perang aja," gumam Davin sangat pelan.
"Emang lo dikasih undangan sama Sela?" tanya Yolanda lagi.
Davin mengangkat bangga selembar kertas undangan pernikahan Sela. Yolanda mendengus sebal saat melihat hal itu. Harinya sudah buruk, ditambah kehadiran si kunyuk satu ini.
"Yaudah ayo. Tapi, jangan sampe malu-maluin!" peringat Yolanda tajam.
"Iye-iye. Buset dah ni anak," sahut Davin memelan di akhir kalimat.
Yolanda mengakhiri dandanannya dengan memakai flat shoes berwarna beige. Senada dengan pita yang ia pakai di rambutnya.
"Ternyata lo bisa keliatan cakep juga ya," cibir Davin yang sebenarnya memuji kecantikan kakaknya.
"Kalo emang aslinya cantik, mau pakai apa aja bakal tetep cantik kali," sahut Yolanda berjalan pelan menuruni anak tangga.
Rumah mereka sepi. Tidak ada mamanya yang biasanya sudah repot menyuruh gadis itu sarapan.
"Mama lagi ikut zumba. Nggak usah nyariin," ujar Davin seolah tahu apa yang sedang Yolanda pikirkan.
Setelah memantapkan hati, Yolanda langsung masuk ke mobil mamanya yang sepertinya Davin pinjam untuk kondangan. Yolanda duduk manis di samping kemudian bersama adiknya yang sudah bercermin berkali-kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Teen FictionYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
