32. Bucin Era (2)

478 152 3
                                        

Motor keduanya terparkir di pinggir danau tempat mereka berdua pernah membolos. Sunset terlihat sangat indah dari pantulan air danau yang tenang.

"Ayo duduk disana," ajak Septa sambil menggenggam jemari lentik Yolanda.

Mereka berdua duduk di tepian danau sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Yolanda hanya menatap bengong ke arah danau yang terlihat sangat indah akan pantulan sinar matahari sore.

"Indah banget 'kan? Kayak lo banget tau," ucap Septa sambil melirik ke arah Yolanda yang masih menatap ke danau tanpa berkedip.

"Yolanda," panggil Septa yang mampu membuat Yolanda menengokkan kepalanya.

"Maaf ya. Aku kurang perhatian sama kamu," lanjut Septa sambil mengubah gaya bicaranya.

Yolanda terpaku akan tatapan Septa yang terlihat sangat lembut. Yolanda spontan menganggukkan kepalanya. Membuat senyuman indah terukir di wajah tampan Septa.

"Terimakasih sayangnya aku," ucap Septa tulus.

"Lo abis kesambet ya?" kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut Yolanda.

Ekspresi wajah Septa langsung berubah. Yolanda tetaplah Yolanda. Gadis yang bisa mengubah berbagai macam suasana sekalipun saat mereka sedang romantis-romantisnya.

"Yaelah pake aku-kamu segala," ucap Yolanda menyindir kelakuan Septa yang suka diluar nurul.

"Apa sih yang enggak buat lo?" balas Septa mengerling jahil.

Keduanya tertawa pelan saat menyadari seberapa konyol kelakuan mereka. Senja menemani keduanya yang sudah asyik berbincang seperti biasa.

"Eh tapi kok lo betah sama kelakuan gue yang begini? Apalagi kita baru aja kenal loh," tanya Yolanda tiba-tiba hendak memulai perkara.

"Mulai deh," sinis Septa sambil merangkai beberapa rumput yang ada di sekitar mereka.

"Ya 'kan gue bener. Ini nanya baik-baik juga," kekeuh Yolanda yang sudah terlanjur penasaran.

"Betah lah. 'Kan ini tahapan biar kita bisa kenal lebih jauh. Gue nggak mau cintanya habis karena kelamaan PDKT," ucap Septa sambil berbisik di akhir kalimat.

Yolanda mengerutkan kening. Balasan ini bukan yang ia inginkan. Baru saja hendak protes, Yolanda sudah menutup mulutnya karena Septa menaruh mahkota dari mulut buatannya.

"Nah gini 'kan cantik. Ayo mana senyumnya?" puji Septa tersenyum lebar.

Kali ini Yolanda benar-benar salah tingkah. Tangannya refleks memukul lengan Septa. Rupanya Yolanda terlalu ber-power. Laki-laki di sampingnya nyaris terguling ke samping karena pukulannya.

"Pelan aja dong, lumayan sakit ini," protes Septa sambil mengelus lengan kanannya.

"Elehh lebay lo. Segitu mah enggak sakit," balas Yolanda sedikit mengejek Septa.

"Tapi katanya mantan lo dulu ditampar ya? Seberapa keras emang?" tanya Septa tiba-tiba saja.

"Lo bisa tanya Sela atau temen yang lain sih. Mukanya Megan sampe merah. Untung giginya enggak copot," balas Yolanda mampu membuat Septa bergidik ngeri.

"Sebenarnya lo bar-bar begini tiru siapa sih?" tanya Septa tak habis pikir.

"Mana gue tau, gue 'kan manusia," balas Yolanda ngaco.

Gadis itu sudah asyik ber-selfie ria dengan mahkota rumput di kepalanya. Berbagai pose sudah ia lakukan. Septa yang gemas akan kelakuan gadis di sampingnya, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus pucuk rambut Yolanda.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang