21. Romantisasi Hal-hal Kecil

529 134 13
                                        

Mereka sudah sampai di parkiran sekolah tepat pukul 06.32. Saat ini Yolanda sedang cukup kesulitan untuk turun dari duduknya.

"Ta, gue nggak bisa turun," cicit Yolanda kebingungan.

Septa langsung turun dari duduknya. Yolanda menjerit terkejut karena takut jatuh. Septa dengan cepat langsung memegangi tangan gadis itu.

"Pelan nape! Gue kaget anjir," protes Yolanda bersungut-sungut.

"Maaf, nggak jatuh 'kan?" tanya Septa mematikan tubuh Yolanda tidak lecet sedikit pun.

Yolanda membuka helmnya. Kotakan risol milik Septa ia letakkan begitu saja di lantai parkiran. Banyak siswa-siswi lain yang sudah berangkat ke sekolah. Kebetulan mereka berpapasan dengan Megan yang datang dengan motor gedenya.

"Masih pagi udah pacaran aja," tegur Megan seraya membuka helm full face-nya.

"Bacot, cowok kok nyinyir," balas Yolanda savage.

Megan menutup mulutnya rapat. Ia langsung melenggang pergi meninggalkan sepasang anak manusia itu begitu saja. Septa geleng-geleng heran saat mendengar balasan Yolanda tadi.

"Masih pagi Yolan. Jangan kasar gitu dong," tegur Septa mengambil kedua kotak risolnya.

Laki-laki itu mengulurkan kunci motor milik Yolanda. Septa berniat memberikannya kepada Yolanda tetapi ditolak gadis itu.

"Pegang lo aja. Biar pulangnya barengan," tolak Yolanda sambil merapikan kuncirannya.

"Orang kaya Megan tuh harusnya digituin. Jangan didiemin aja, yang ada malah kita yang diinjek-injek," lanjut Yolanda membalas teguran Septa tadi.

"Tapi 'kan nggak harus dengan cara begitu," balas Septa masih mencoba menasihati.

"Itu cara gue. Cara paling ampuh buat ngadepin cowok kebanyakan omong," tandas Yolanda tak mau kalah.

Septa mengaku kalah. Ia memilih diam daripada kena semprit Yolanda. Langkah kaki keduanya beriringan menuju kantin. Karena belum sarapan, Yolanda mengajak Septa untuk makan pagi bersama.

"Gue mau naroh risol dulu, sana pesen duluan aja," ujar Septa menghentikan langkahnya di meja depan titipan risolnya.

"Enggak, gue mau ikutan lo," balas Yolanda turut menata risoles di meja kantin.

Mereka menata risoles dengan hening. Gerakan Septa cepat dan tangkas, mampu membuat Yolanda merasa tersaingi. Gadis itu dengan cepat berusaha menata makanan itu dengan cepat. Nyatanya, pengalaman yang berbicara.

"Pelan-pelan Yolanda," tegur Septa ikut membantu kotakan milik Yolanda.

"Lo ngalah sekali aja nggak bisa ya? Biar gue seneng dikit kek," protes Yolanda menggembungkan pipinya.

Septa tertawa pelan. Yolanda tetaplah Yolanda. Gadis keras kepala dengan seribu sifat uniknya.

"Iya-iya, yuk sarapan dulu. Ntar keburu masuk lagi," ajak Septa menaruh kotakannya di bawah meja kantin itu.

Yolanda berjalan menuju stand kantin SMA Angkasa. Banyak menu sarapan pagi yang terpajang rapi di meja ibu kantin. Pilihan Yolanda jatuh ke penjual nasi uduk.

"Pagi neng, mau sarapan nasi uduk atau nasi kuning?" tawar ibu kantin sambil mengambil sebuah piring.

"Lo mau apa?" tanya Yolanda ke arah Septa yang hanya berdiri diam di sampingnya.

"Nasi uduk? Lo suka 'kan?" sahut Septa diselipkan sebuah pertanyaan.

"Ibu nasi uduknya dua ya. Yang satu jangan pakai sambal sama sayur mie," pesan Yolanda ke arah si ibu.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang