Sebulan sudah berlalu. Membersamai Yolanda yang sudah semakin bahagia dengan semua keadaan yang ada pada dirinya. Belajar menerima dengan ikhlas akan goresan takdir.
"Nanti balik beli siomay kuy?" ajak Sela sambil memasukkan semua buku pelajarannya asal.
"Kuy!" balas Yolanda bersemangat.
Keduanya berjalan keluar kelas dengan wajah yang sumringah. Sela sedikit terkejut saat melihat Megan yang sudah berdiri santai menunggunya di depan pintu kelas.
"Astaga! Bikin kaget aja deh," pekik Sela tidak dibuat-buat.
"Ayo balik," ajak Megan.
Yolanda tersenyum tipis melihat interaksi dua insan di hadapannya.
"Tapi gue mau beli siomay sama Yolanda. Lo mau ikut?" tanya Sela.
"Ikutlah sama gue!" sahut sebuah suara dari balik punggung Megan.
Adalah Davin yang dengan petantang petentengnya berjalan ke arah Yolanda yang hanya menghela nafas berat. Hari-harinya semakin berwarna kalau Davin selalu ada di sampingnya.
"Yakali mau makan-makan gue kagak diajak. Yang bener aje!" protes Davin setibanya di samping Megan.
"Yaudah ayo aja," balas Megan datar.
Keempatnya berjalan menuju tempat parkir. Diselingi canda tawa yang keluar dari mulut Davin yang suka asal bunyi.
"Kemarin itu si Andre pas sparing celananya melorot jir. Bikin malu parah!" ujar Davin memulai ceritanya.
"Bisa-bisanya?" timpal Sela dengan tawa yang menyembur.
"Tau tuh anak! Kolornya udah melar kali, jadi bikin celana melorot," balas Davin asal bunyi.
Jawaban konyol dari Davin mampu membuat kedua gadis itu tertawa cukup kencang. Sampai akhirnya, Sela menghentikan tawanya saat melihat Septa yang sedang berjalan bersama Melinda. Yolanda sempat bertatapan barang sebentar.
"Yaelah sok kecakepan amat sih. Dapet hasil ngerebut aja bangga," sinis Sela sedikit kencang.
"Udah-udah nggak usah gitu," lerai Yolanda tak mau memperpanjang masalah.
"Iya tuh iya. Kalo sesuatu hasil ngerebut sih bakal direbut balik," timpal Davin mengompori.
"Lo juga. Udah kali, biarin aja mereka seneng-seneng sama dunianya," tegur Yolanda sekali lagi.
Akhirnya, kedua manusia jahil itu menghentikan seruannya. Yolanda masih menatap ke arah Septa yang seolah benar-benar mengacuhkannya. Yolanda tertipu. Untungnya, hubungan mereka hanya berjalan beberapa bulan. Tidak begitu sulit untuk menghapus segala kenangan.
Masalah bersekongkolnya antara Megan dan Septa, Yolanda memilih untuk menutup rapat masalah itu. Ia tak mau kehilangan sahabatnya. Cukup ia yang tahu kebusukan kedua mantannya.
"LET'S GO TO MAMANG SIOMAY!" pekik Davin seraya menyalakan stater motornya.
Mereka berempat melajukan kendaraannya menuju tempat siomay langganan Yolanda dan Sela sejak dulu. Termasuk legend dan harga yang terjangkau.
Yolanda menikmati hari-harinya. Semakin hari semakin bahagia. Mantra yang Yolanda ucapkan setiap hari, akhirnya terwujud. Gadis itu hanya berharap bisa bahagia.
"Terimakasih Tuhan, karena sudah memberikan aku kesempatan untuk kembali bahagia. Meskipun tidak bersama orang yang aku kasihi," batin Yolanda.
"Gimana? Happy kan lo?" tanya Davin di sela-sela perjalanan.
"Hemm, happy banget," sahut Yolanda.
"Gue bakal terus ada di sisi lo. Jangan khawatir," ujar Davin lagi.
Yolanda semakin bersyukur. Dirinya dikelilingi banyak orang yang menyayanginya. Memang benar kalau people come and go, tapi lain halnya dengan keluarga dan sahabatnya yang sudah jelas tidak akan meninggalkannya.
"Terimakasih untuk kisah yang sempat dimulai, Septa Rahmawan," gumam Yolanda seraya memejamkan mata erat.
***
THE END
KAMU SEDANG MEMBACA
MY CUPU BOYFRIEND
Fiksi RemajaYolanda Melviana. Gadis super galak nan jutek dari SMA Angkasa. Setiap harinya diisi kelakuan super bar-bar yang sudah tidak dapat dikontrol lagi olehnya. "Wehh minggir lo pada! Princess cantik mau lewat", kelakar gadis itu. "Kiw kiw cowo, cakep a...
