26. With Papa

517 139 5
                                        

Sepulang sekolah, Septa menuruti kemauan Yolanda. Saat ini ia sudah berdiri di depan pintu kelas Yolanda yang terlihat masih berdoa. Laki-laki itu berdiri diam sambil sesekali mengecek ponselnya. Baru saja hendak mengirim pesan kepada sang kekasih, Septa sudah dikejutkan dengan kehadiran Yolanda yang keluar bersama sobatnya.

"Loh udah disini aja?" sapa Yolanda saat sadar kalau Septa sudah berdiri di depan kelasnya ajak tadi.

"Iya. Kenapa baru keluar?" tanya Septa sedikit kaku.

Ia takut keceplosan bilang yang tidak-tidak. Mana tahu Yolanda belum cerita ke teman-temannya kalau mereka sudah jadian beberapa jam lalu.

"Tenang aja, gue udah tau kok. Selamat ya kalian," ucap Sela yang peka akan cara bicara Septa yang tiba-tiba saja berubah.

"Iya dia udah tau kok. Santai aja," timpal Yolanda beralih ke samping Septa.

"Maaf ya Sela, kayaknya gue belum bisa temenin lo sekarang. Besok aja gimana?" lanjut Yolanda saat teringat akan ajakan temannya siang tadi.

"Iya gapapa. Gue balik dulu, udah ditunggu kak Megan dibawah," pamit Sela cepat-cepat turun.

Kedua sejoli itu hanya mengangguk mengerti. Walaupun sebenarnya Septa tidak paham akan jalan pikiran sela yang mau-maunya disuruh menikahi mantan pacar sahabatnya sendiri. Sekalipun Yolanda sudah move on, tetapi tetap jadi akan ada rasa canggung bukan?

"Dia beneran bakal nikah sama mantan lo?" tanya Septa sambil mengajak Yolanda berjalan menuruni anak tangga.

"Beneran. Akadnya minggu depan pas weekend," balas Yolanda seadanya.

"Lo mau dateng?" tanya Septa polos.

"Dateng lah. 'Kan sekarang udah punya pacar," sahut Yolanda menyengir lebar.

Septa tertawa pelan saat mendengar jawaban dari bibir kekasihnya. Ternyata Yolanda juga punya sisi yang seperti ini.

"Tapi lo beneran nggak malu pacaran sama gue? Gue anak orang gak punya, cupu juga," tiba-tiba Septa mengucapakan kalimat ini.

"Tiba-tiba banget?" sinis Yolanda yang sebenarnya tidak mau mood-nya diganggu.

"Yaa nggak papa. Lagian cepat atau lambat, orang-orang juga pasti bakal tau kalo kita pacaran, Yolanda," terang Septa berusaha memberikan pengertian.

"Sini diem bentar," tegur Yolanda mengajak Septa untuk duduk di kursi dekat ruang UKS.

"Lo itu pacar gue. Terserah orang lain mau bilang lo cupu, penjual risol atau apa kek. Gue nggak peduli. Lagian, gue juga bukan anak orang kaya. Kita sama sama manusia yang setara di mata Tuhan, Septa," ujar Yolanda pelan.

"Cukup gini aja. Kalau kita saling sayang, itu udah lebih dari cukup untuk menjalin sebuah hubungan. Kedepannya, pasti akan ada jalan yang terbuka buat kita berdua. Lo jangan khawatir gitu dong," lanjut Yolanda yang secara tiba-tiba bersikap dewasa.

Septa mengerjap pelan. Yolanda sungguh mengejutkan. Gadis ini seperti bom waktu yang bisa mengejutkannya berkali-kali. Semua karakter yang Yolanda miliki dapat membuat Septa speechless walau hanya dengan melihatnya.

"Ini beneran Yolanda 'kan?" tanya Septa yang dihadiahi tabokan maut di lengannya.

"Ya iyalah! Emang cewek lo ada berapa?" sinis Yolanda yang kembali lagi ke tabiat aslinya.

Septa tertawa kecil. Ini adalah Yolanda yang ia kenal. Gadis bar-bar dengan sejuta teriakan dan omongannya.

"Udah yok pulang. Keburu sore," ajak Yolanda beranjak berdiri.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang