11. Konfirmasi

656 150 17
                                        

Setelah mendengar kabar buruk dari Sela tentang perjodohannya, mendadak Yolanda tak mampu menemukan keberadaan sobatnya itu. Bahkan teman sekelasnya tidak ada yang tahu kemana perginya Sela. Dengan mengusap wajah kasar, Yolanda melangkahkan kakinya menuju kantin. Jam makan siang sudah tiba, perutnya meronta-ronta meminta makan. Setidaknya untuk saat ini, ia bisa makan siang terlebih dahulu untuk mengisi energi.

Yolanda memesan mie ayam siang ini. Ia ingin yang manis, pedas tetapi juga ada rasa asamnya. Karena tidak terlalu suka dengan bakso, ia memilih memesan mie ayam dan air mineral dingin. Saat sedang menenggak air minum di dekat kedai milik salah satu pemilik kantin, Yolanda dikejutkan oleh tindakan Septa yang tiba-tiba merampas botolnya.

"Lo—

"Minum sambil duduk," potong Septa mengajak Yolanda duduk di meja paling dekat dengan keduanya.

Yolanda kembali mengambil botol minumnya. Gadis itu menenggak sedikit air minum, berusaha menelan kepahitan yang sedang ia rasakan.

"Tumben sendiri, Sela kemana?" tanya Septa tiba-tiba.

Yolanda menengok cepat. Ia baru sadar jika sedari pagi, sikap Septa sangatlah aneh jika dibandingkan hari-hari sebelumnya. Walaupun manusia mengalami perubahan, tidak mungkin dalam jangka waktu sebentar ini kan?

"Lo kesambet beneran ya, Ta?" tanya Yolanda menatap ngeri.

Septa yang paham akan tatapan Yolanda, laki-laki itu tertawa pelan. Yolanda ini lucu, padahal dia yang pengin Septa berubah. Saat sudah berubah, kok malah dipertanyakan?

"Nggak, gue sehat gini," balas Septa setelah tawanya mereda.

Yolanda yang baru saja hendak memprotes balasan Septa, ia mengurungkan niatnya karena mie ayam pesanannya sudah tersaji di hadapannya. Setelah meraciknya dengan bumbu kehidupan, Yolanda mulai mengaduk mangkuk penuh itu. Sadar kalau Septa hanya diam saja, Yolanda berinisiatif menawari makan siangnya.

"Lo belum makan? Nih, makan sama gue," tawar Yolanda memberikan sebuah garpu.

Septa justru menggelengkan kepalanya. Yolanda yang memang suka memaksa, ia rela mendebat Septa untuk perkara yang satu ini.

"Gue tau lo belum makan. Ayo makan sama gue, nih-nih," ajak Yolanda sambil menggenggamkan garpu ke telapak tangan besar milik Septa.

Yoaldns tanpa gengsi, langsung memakan mie ayam di hadapannya berdua dengan Septa. Keduanya bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Bahkan untuk makan saja sampai pesan satu porsi.

"Ini bukan berarti gue gak mampu ya. Enak aja barengan gini," gumam Yolanda seraya menyeruput mie ayamnya.

Septa yang diam-diam menatap wajah cantik Yolanda, tanpa ia sadari dirinya sudah menaruh perhatian lebih kepada Yolanda. Septa yang biasanya dingin dan cuek dengan sekitar, sekarang sudah mulai peduli kepada Yolanda. Hari-harinya juga sudah mulai berwarna, yang biasanya hanya hitam-putih, sekarang sudah menjadi mejikuhibiniu.

"Nggak usah ngeliat segitunya. Naksir tau rasa lo," tegur Yolanda yang sadar akan tatapan intens milik Septa.

Karena mendengar kalimat spontan tadi, mendadak Septa tersedak mie di kerongkongannya. Yolanda dengan cekatan memberikan Septa botol minum bekasnya tadi. Daripada terjadi hal yang tidak-tidak, lebih baik Yolanda memberikannya minum secepat mungkin.

"Pelan aja kali, gue udahan kok makannya," ucap Yolanda sedikit meledek.

"Lo beneran udah kenyang?" tanya Septa yang sedikit kagum dengan porsi makan Yolanda.

Yolanda mengangguk pasti. Hari ini nafsu makannya sedikit turun. Padahal biasanya kalau suruh menghabiskan mie ayam dua mangkuk juga habis. Tapi karena ia kembali kepikiran tentang masalah Sela, Yolanda langsung kehilangan nafsu makannya.

MY CUPU BOYFRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang